Monday, July 18, 2016

Sudah Baligh?

#HanyaOpini

Beberapa hari ini, saya di sibukkan mengoreksi dan menginput kuesioner penelitian tugas akhir kampus.

Dalam tugas akhir ini, saya akan meneliti _"Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pacaran"_ tentu ada tantangan tersendiri, karena tidak mudah memang, tapi saya yakin Allah akan membantu saya..

Dalam kuesioner yang saya buat, terdapat pertanyaan yang terkait aktifitas-aktifitas apa saja yang di lakukan pada saat pacaran. Hasilnya sungguh saya sendiri prihatin pada anak muda jaman sekarang.

Saya tidak akan bahas banyak, karena jika di bahas semua mungkin bisa menghasilkan satu buah buku hehe.

Di tulisan kali ini saya akan mengatakan bahwasanya, salah satu aktifitas yang kebanyakan responden lakukan dengan pacarnya ialah mengobrol dan curhat.

Sayapun dapat mengambil sedikit kesimpulan bahwasanya mereka-mereka yang pacaran sebenarnya orang-orang yang dalam hidupnya kesepian dan banyak masalah hehe...

Satu hal yang perlu di ingat, sungguh ajaran Islam sungguh luar biasa dahsyatnya.

Kenapa Islam sangat menganjurkan laki-laki atau perempuan apabila sudah baligh harus segera di nikahkan.

Itu karena, ketika laki-laki atau perempuan baligh, dalam hal ini adanya sebuah peralihan/perpindahan besar yang sangat berpengaruh.

Ini hanya pandangan saya yah hehehe...

Saya menyamakan masa kanak-kanak ialah masa di mana belum baligh, dan masa remaja saya namakan masa baligh.

Mungkin para pembaca sedikit banyak mengetahui kejadian-kejadian/perubahan-perubahan apa saja yang di alami pada masa remaja.

Pada saat remaja, pertumbuhan dan perkembangan baik emosional, fisik, psikologis semuanya berkembang dan tumbuh.

Makannya kenapa, ada sebagian orang yang mengatakan masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, mana di mana manusia mencari jatidiri, masa dimana segala perubahan terjadi.

Tentu, jika dalam masa ini, laki-laki atau perempuan  mengalami keterhambatan dalam perkembangan dan pertumbuhan, maka akan berdampak  pada masa yang akan datang, begitupun sebaliknya.

Kembali ke topik utama. Kenapa mereka-mereka yang dalam aktifitas  berpacaran hampir semua responden menyebutkan mereka sering mengobrol dan curhat? Itu tandanya mereka mempunyai banyak masalah pada masa ini. Terbukti dengan banyaknya bahkan hamipr seluruh reaponden menjawab salah satu aktifitas mereka dalam pacaran ialaj cuthat.

Adanya curhat biasanya di pacu oleh hadirnya masalah, right or No? 😬

Sebenarnya inti dari tulisan ini sih hanya menekankan bahwasanya, islam itu sudah mengatur segala urusan manusia dari hal terkecil hingga terbesar.

Kenapa islam menyuruh laki-laki atau perempuam baligh segera di nikahkan, itu karena pada masa baligh inilah masalah atau hal apapun akan muncul.

Pada masa ini, baik laki-laki maupun perempuan membutuhkan partner yang   menguatkan.

Sepertinya sekian. Semoga bermanfaat 😁

Wallahu'alam

Saturday, July 16, 2016

Edisi Persuasi :D

#EdisiPersuasi

Enaknya jadi penulis... Manakala hati kecewa, kekecewaan itu hanya bisa di ungkapkan lewat kata. Dan kerennya... Sebuah kekecewaan bisa menghasilkan sebuah karya ^_^ beda menulis dan mengumbar, aku menulis dengan hati yang sabar, sedangkan   mengumbar dengan nafsu yang tak wajar.

Sedih, bahagia, ataupun kecewa sang pembaca pasti menebak tulisan itu kisah nyata yang di alami oleh penulis, namun perlu di ingat kawan, tidak semua kisah yang di tulis berdasarkan kisah yang di alami langsung oleh penulis.

Tahukan? Dengan menulis, tingkat kesetresan berkurang hehe~ karena apa yang di pikiran tertuangkan lewat tulisan.

Tahukah? Dengan menulis, orang lain bisa cinta atau orang lain bisa benci, cinta atau bencinya seseorang kepada kita,  tergantung dari apa yang kita tulis, So... Menulislah dengan niat kebaikan yah :)

Tahukah? Ternyata... Menulis merupakan salah satu obat mujarab. Tak percaya? Dengan menulis, seseorang yang merindu bisa menuangkan kerinduamnya lewat tulisan hehe,  seseorang yang kecewa akan menuangkan kekecewaannya dalam tulisan. Sehingga menulis merupakan salah satu obat mujarab walaupun hanya sementara. True?

Aku bukan seorang penulis yang pintar merangkai kata, atau seorang yang  pandai dalam menulis puisi, aku suka menulis berangkat dari sebuah kegelisahan yang teramat sangat.

Sebenarnya, Aku menulis karena aku tidak bisa membagikan kegelisahanku kepada orang-orang yang sayang padaku.  Yang dekat denganku, yang peduli padaku.

Biarlah kegelisahanku melebur menjadi sebuah cerita yang penuh makna. Biarlah kegelisahanku menjadi sebuah pelajaran yang berharga.

Kau tau teman? Bagiku kau rugi, sungguh rugi jika dalam hatimu tidak ada secuil keinginanpun untuk menulis.

Aku bukan seorang penulis... Sungguh aku bukan seorang penulis... Namun aku suka menulis mau bagaimana? :)

Menulislah kawan tunggu apa lagi? :D

"Tersenyumlah Dik, karena cahaya itu ada padamu ^_^"

-Langit-

Kota Impian




Awalnya tak percaya, namun setelah Ines meyakinkan gue,  akhirnya gue mengakui jika Ilham meninggalkan gue.

Tadinya ia berjanji, iya berjanji akan membuat gue bahagia dan membuat bahtera, tapi dia pergi... Pergi tanpa secuilpun kata perpisahan yang di ucapnya. Mungkin ini memang takdir gue, gue memang layak untuk di sakiti.

"Gue yakin cinta ihlam tulus Ra, sekalipun gue baru lihat sekilas tapi aura keyakinan terpancar di hadapan gue hehe..."

"Haha... Lebay lu, doain gue ya Nes, semoga memang Ilham yang terbaik." kata gue penuh harap.

Lusa gue akan ke Jogja bertemu Ilham, ketika keyakinan sudah terpatri segala halang rintang pasti gue hadapi. Jakarta dan Jogja tidak terlampau jauh, renacanya gue mau naik kereta antar kota.

"Setelah gue ketemu ilham, gue langsung balik jakarta, gue ga mau lama-lama di rumah nenek gue hehe..."

"Jangan begitu Ra, lu harus siap-siap deket sama keluarga ayah lu, masa ilham yang ikut lu ke jakarta hehe..."

Hari yang di nanti akhirnya tiba juga, pada saat itu Ilham tidak bisa di hubungi, tapi aku percaya ilham laki-laki baik. Dan gue yakin Tuhan takdirin Ilham buat gue.

"Ilham jemput lu di stasiun Ra?" tanya Ines cemas

"Engga Nes, tiga hari yang lalu ilham kirim alamat rumahnya ke gue dan gue nanti mau langsung kesana sekalian ketemu sama keluarganya" jelas gue pada Ines

Raut wajah Ines menggambarkan kegelisahan yang luar biasa, entahlah apa yang ines pikirkan saat itu. Tapi semoga saja itu hanya tanda rasa kekhawatiran melepas temannya pergi.

"Nes..."sambil menatap ines "jangan khawatir, saat ini gue yakin ilham bukan type orang pengecut" lanjut gue.

Ines memeluk gue  dengan erat seolah enggan di tinggal pergi. Tak lama, kereta menuju Jogja tiba di stasiun. Dengan sigap, gue bersiap-siap dengan mantap.

"Tuhan... Jadikan Ilham sebagai sosok yang akan membuat gue bahagia"bisik batinku

Bersambung

Saturday, July 9, 2016

Tawazun (Seimbang)

#TerkhususUntukPara Bujang

*Remember, Just For Bujang! Ok


Sepertinya... Gembor-gembor seputar pernikahan masih masif di perbincangkan hehe, hampir seluruh media sosial membicarakan soal ini (pernikahan) mulai dari facebook, BBM, group whastup, IG dan masih banyak lagi. Ini mendandakan di bumi ini ternyata penghuni yang tinggal kebanyakan para bujang 😁✌🏻

Karena masifnya pembahasan seputar pernikahan, sebagai seorang bujang yang bijak, mari kita sikapi fenomena ini dengan pikiran yang jernih dan matang. Jangan sampai terbawa perasaan atau istilah kerennya baper 😂

Tidak bisa di pungkiri, yang namanya baper pasti ada, karena sungguh pada hakikatnya kita ini semua termasuk orang yang sedang menanti, menanti jodoh, kematian dan yang lainnya, nah dalam proses menunggu itulah penentu sukses atau tidaknyanya kita ke depan.

Misalnya dalam hal menunggu kematian, jika dalam proses menunggu kita melakukan amal ma'ruf nahi munkar, tatkala kematian itu sudah di depan mata, maka beruntunglah ia. Tapi jika dalam proses menunggu kita gunakan untuk mencegah amal ma'rud nahi munkar, tatkala kematian sudah di depan mata, maka rugilah ia. Begitupun dalam hal menunggu masa di mana perjanjian besar antara dua insan terjadi. Berhasil atau suksesnya sebuah pernikahan salah satu faktornya di lihat dari bagaimana ia menunggu.

Saya tidak akan membahas terlampau jauh mengenai pernikahan, namun dalam tulisan ini saya akan bahas keseimbangan. Pun saya sadari ilmu saya masih seunyil, namun sedikit akan saya berbagi tips2 bagaimana menyikapi fenomena maraknya pembahasan pernikahan (jomblo, ijab, menanti, calon, taaruf dll)

Kita boleh membaca postingan-postingan seputar pernikahan, karena bagaimanapun membaca adalah jendela ilmu, kita boleh berdiskusi dengan orang-orang yang sudah menikah, karena dengan berdiskusi membuka wawasan, kita boleh memiliki teman-teman yang sangat gencar mempromoikan untuk menikah, karena dengan berteman bisa mengeratkan.

Namun perlu di ingat, masih ada pembahasan-pembahasan lain yang tentunya harus kita ketahui juga.

Sebenarnya, dengan seimbang, dapat meminimalisir kebaperan 😅. Tidak percaya? Baik saya akan buktikan dengan pengalaman yang saya alami sendiri hehe. Bukankah salah satu guru terbaik adalah pengalaman? 🙂

Suatu waktu, pernah saya temui mulai dari status, gambar meme, artikel hingga video hampir seharian membahas tentang itu (pernikahan), ahh angan untuk menikah akhirnya menggebu-gebu. Belum lagi pada saat bersamaan saya berdiskui dengan orang yang sangat pakar dalam hal pernikahan. Tentu keinginan untuk menikah sudah tak bisa di bendung lagi 😫

Coba bayangkan.. Di saat kita ingin mempunyai sesuatu, namun pada kenyataannya kita tidak bisa mendapatkan keinginan itu. Apa yang kita rasakan pada saat itu? Tentu kesal, marah dan pastinya.... Baper.😭

Begitulah perassan para bujang melihat fenomena yang saat ini hangat di perbincangkan. Mereka ingin sangat ingin, namun karena Allah belum takdirkan, apa mau di kata? 🤐

Baik, saya akan sedikit berbagi tips, bagaimana menyikapi fenomena saat ini.

Pertama, bertemanlah dengan orang yang memiliki keahlian/mimpi besar.

Ini penting, terlebih pada saat fenomena sekarang. Dengan mempunyai teman yang memiliki mimpi besar atau keahlian, misalnya kita mempunyai teman yang memiliki keahlian berdagang. Tatkala fenomena pernikahan masif di perbincangkan, agar tidak terbawa baper segeralah menghubungi teman kita yang ahli berdagang itu, ajak diskusi atau sapa dia dengan ramah, jangan malah tatkala kita baper karena melihat gambar atau artikel yang membahas pernikhan, kita malah berdiskusi dengan teman yang sama-sama baper juga😂. Saya yakin manakala kita sedang baper  karena ingin menikah, dan pada saat itu kita menghubungi teman yang memiliki mimpi tinggi, tentu pembahasan yang akan ia angkat bukan masalah penikahan, melainkan masalah mimpi besar. Nah... Dari sini saja keinginan untuk menikah bisa sedikit di redakan.

Kedua, cobalah memiliki group yang heterogen 🙂, jangan melulu kita punya group misalnya group whastup isinya tentang pernikahan semua, misalnya group sakinahlah, group jimblo lah, group keluarga bahagialah dan lain-lain. Intinya group tersebut mengarah pada pernikahan. Saya tidak melarang, boleh saja tapi... Cobalah kita bergabung  group yang  heterogen. Misalnya group pengusaha, menulis, group beasiswa. Pun tak bisa di pungiri walaupun itu group pengusaha misalnya, tetap saja pembahasan pernikhan ada hehe tapi tidak semasif group yang sebenarnya. Istilahnya hanya sebatas iklan atau angin lewat.

Memiliki group yang heterogen sangat bermanfaat bagi kita para bujang. Jelas saja bermanfaat, pernah dulu keinginan menikah timbul karena  pasa saat itu di  picu oleh  artikel dan meme yang berseliweran  hehe. Akhirnya saya membuka group beasiswa, hampir seharian saya baca postingan yang ada di group tersebut. Al hasil  keinginan untuk menikah kembali bisa di redam 😌.

Ketiga, suhahlah ... Yakin saja akan pilihan dan ketentuan Allah. Setiap kita memiliki kisah masing-masing. Jangan mengharapkan kisah yang indah, karena jika tidak seindah apa yang kita bayangkan kita kecewa. Tapi bedoalah kepada Allah agar kita di berikan keikhlasan, agar manakala  Dia memberikan kepada kita kisah yang Dia  gariskan, kita bersabar 😊.

Jika saat ini fenomena pernikahan berseliweran, imbangilah dengan fenomen-fenomena yang lain. Karena sungguh... Tugas kita para bujang masih banyak sampai  membeludak.

Wallahu'alam.

Bumi Allah, 5 Syawal 1437 H

Saturday, July 2, 2016

Akhir Yang Baik

Jika kita menulis cerita, dengan seenak hati kita membuat endingnya.

Entah itu berakhir sedih, bahagia, atau mengharukan.

Begitupun Allah, Allah membuat skenario dengan kehendak-Nya.

Jika kita menulis sebuah kisah yang dalam kisah tersebut kadang maya, namun Allah azza wajalla menulis kisah kita dengan nyata. 

Pernah berpikir untuk apa Allah membuat skenario?

Jawabannya silakan renungkan masing-masing.

Saya dapat satu pelajaran yang amat berharga dari kejadian kemarin.

Tentang sebuah kisah...
Sebuah kisah yang berujung keikhlasan dan kerelaan.

Dari kejadian itu, saya mulai merenung... Walaupun kita boleh dengan seenaknya membuat skenario, namun buatlah skenario dengan sebaik-baiknya.

Sekalipun tak bisa di pungkiri, tidak ada yang bisa menandingi skenario Allah swt, namun saya tersadarkan bahwa saat hendak membuat skenario dalam sebuah tulisan, buatlah skenario yang baik, skenario yang indah, pun yang berakhir sedih, buatlah skenario yang walaupun sedih tetap mengandung sebuah makna yang mendalam

Kejadian kemarin mengajarkan saya bahwa... Allahlah yang mengatur skenario, sekalipun nafsu kita ini  dan ini, namun skenario Allahlah yang mengatakan itu.

Kita ingin kisah kita indah namun jika dalam skenario Allah belum saatnya, apalah boleh di kata.

Sakit memang, namun akan lebih sakit bila kita tidak meyakini akan takdir Allah yang Maha Kuasa.

Sungguh dalam setiap episode yang Allah buat untuk kita, terkandung makna yang tersirat, namun kebanyakan manusia tak melihat.

Sepertinya sudah saatnya kita membuka mata untuk melihat...telinga untuk mendengar...bukan lagi mata untuk mendengar dan telinga untuk melihat.

Buatlah skenario yang paling baik semampu yang kita bisa karena harus di sadari Allah sangat menyukai kebaikan bukan kesukaran.

Allah tidak mendzalimi hamba-Nya karena saking sayangnya Allah pada kita, tapi kita sendirilah yang mendzalimi diri sendiri.

Semoga Allah taqdirkan kepada kita semua akhir yang baik agar Allah  pertemukan kita di tempat yang terbaik pula.

Bumi Allah,2016

Ternyata... Begini Rasanya...

Sepertinya kebiasaan untuk menulis setiap hari mulai terpatri

Beberapa hari ini,  sungguh saya sangat enggan untuk menulis, manakala hendak menulis saya langsung alihkan ke hal-hal lain.

Namun semakin saya alihkan, rasa untuk menulis semakin memuncak di dada

Ternyata begini rasanya... Menahan untuk tidak menulis sungguh menyesakkan dada

Sekarang saya tahu, kenapa para penulis hebat selalu menemukan banyak ide, kenapa para penulis hebat selalu 'gatel' ingin menulis

Karena jika mereka tidak menulis, hati mereka menjadi galau.

Pun mereka yang setiap saat dekat dengan Al-Qur'an.

Mankala sedetik saja Al-Qur'an tak di genggaman, hati menjadi galau dan risau

Saat malas membaca Al-Qur'an, bagi saya ini ujian amat berat. Sekalipun di lawan namun tetap saja rasa malas mengalahkan.

Namun... Semakin saya malas, semakin Al-Qur'an ingin selalu di genggam

Ternyata... Begini rasanya. Malas membaca Al-Qur'an sungguh menyesakkan dada.

Terkhusus nasihat untuk diri...

Bersyukurlah karena Allah masih memberikan rasa bersalah dan risau manakala kita mencoba menjauh dari kebaikan

Itu tandanya, Allah tidak ingin engkau jauh...

Itu tandanya, Allah ingin engkau dekat...

Itu tandanya, Hidayah Allah mulai melekat.

Bersyukurlah...
Bersyukurlah...
Bersyukurlah...

Karena  Sang Maha Pengasih masih menyayangimu 😊

Dari temanmu, -Langit-

Bumi Allah, 2016