Sunday, October 8, 2017

MATERI 1 SENIN #GM

*MATERI 1 SENIN*

*_TINGKTAN PARA SAHABAT_*

_Diambil dari buku : Ensiklopedia  Biografi Sahabat Nabi (Muhammad Raji Hasan Kinas)_

Pembagian menurut al-Imam Abdillah al-Hakim al-Nasyaburi dalam kitabnya, Ma'rifat 'Ulum al-Hadits. Ia membagi tingkatan sahabat ke dalam 12 tingkatan.

Pertama, para sahabat yang masuk Islam di Makkah, seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali dan beberapa yang lain.

Kedua, jamaah Darunnadwah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa setelah Umar bersyahadat, ia pergi bersama Rasulullah saw ke Darunnadwah. Di sana Umar dibaiat oleh beberapa orang Makkah, termasuk Said ibn Zaid dan Sa'd Abu Waqqash.

Ketiga, Para sahabat yang berhijrah ke Abisinia, termasuk di antaranya Ja'far Ibn Abu Thalib.

Keempat, Para sahabat yang membaiat Nabi Saw di Aqabah, seperti Ubadah Ibn al-Shamit.

Kelima, Para Sahabat yang ikut Baiat Aqabah Kedua, yang sebagian besar dari kalangan Anshar.

Keenam, Golongan Muhajirin pertama, yang masuk Islam ketika Rasulullah tiba di Quba dalam perjalanan daei Makkah ke Madinah. Di tempat itu mereka mendirikan masjid bersama Rasulullah saw yang disebut masjid Quba. Termasuk dalam tingkatan ini adalah Amir ibn Rabiah.

*Khansa S@F*
#BeAGoodMuslimah.

Saturday, September 2, 2017

*GROUP KHUSUS UNTUK PEREMPUAN*

*GROUP KHUSUS UNTUK PEREMPUAN*

*Harap baca tuntas jangan setengah-setengah, ya...*

Bagi kamu yang ingin menjadi seorang *Penulis, Pengusaha dan Penghafal Al-Qur'an* disinilah tempatnya!

Kenapa harus menjadi *Penulis, Pengusaha dan Penghafal Al-Qur'an?* Jawabannya, silakan simak penuturan di bawah ini.

Sebelum kemana-mana, saya sebagai pendiri group akan menjelaskan salah satu tujuan pokok utama group ini dibuat. Satu pokok yang paling penting *Mengenal Ilmu Agama Islam Lebih Dekat* karena nanti, ada beberapa hari yang ditentukan group akan berisi tulisan yang berkaitan dengan Agama.

Lantas bagaimana dengan *Penulis, Pengusaha dan Penghafal Al-Qur'an?* Mari kita simak.

Pendiri group sendiri memiliki cita-cita yang fokus di 3 ranah tersebut, jadi pendiri tidak mau jadi penulis sendirian, pengusaha sendirian maupun penghafal Al-Qur'an sendirian, pendiri ingin setiap manusia bergelar muslimah memiliki bakat kemampuan yang tentu saja selain untung untuk dirinya juga orang lain, dan setiap kemampuan yang dimiliki, pendiri berharap semuanya   bemuara hanya untuk Allah semata tidak untuk yang lain!.

Yups! Pendiri sadar, ia makhluk sosial harus punya banyak teman dan kalau memiliki sebiji kebaikan, kenapa ragu untuk tak dibagikan?

Makanya, pendiri ingin setiap muslimah memiliki keahlian yang bukan hanya bermanfaat untuk dirinya tapi juga untuk orang-orang disekitarnya serta bukan hanya untuk  urusan dunia tapi juga untuk urusan akhirat pastinya.

Langsung bahas 3 point pokok.

Point pertama, *Penulis*
Karena saya seorang penulis, saya ingin selalu berbagi kebaikan  melalui tulisan-tulisan saya, sekali pun saya terbilang  penulis yang masih anak bawang, tapi keinginan saya untuk berbagi kebaikan melalui tulisan mengalahkan bawang. Salah satu program saya di group ini adalah, setiap peserta boleh mengiriman karya tulisnya, hasil dari tulisannya akan saya share melalui media Instagram, facebook dan telegram  (masih cooming soon), dan dalam setiap bulan, saya akan melaksanakan perlombaan dalam group yang mana hadianya berupa Seperangkat Alat Hijrah (Jilbab, kerudung, kaos kaki, buku islami dll), kenapa harus seperangkat alat hijrah? Saya berharap dengan hadiah yang diberi, peserta lebih semangat lagi berubah menuju arah lebih baik lagi. Aamiin.

Point kedua *Pengusaha*
Karena saya seorang pengusaha, sekali pun masih terbilang pemula, tapi saya yakin dengan tekad dan ikhtiar sekuat baja, tak lama, Allah akan izinkan saya menjadi seorang pengusaya yang paripurna. Di group ini, setiap muslimah wajib punya usaha, kalau pun belum punya, saya sendiri yang akan membantu. Dengan cara? Lebih lanjut dalam hal pengusaha, saya akan jelaskan detail melalui group WA. Untuk pengusaha ini, fokus saya insya Allah bulan oktober, _biiznillah_ (atas izin Allah), _bismmillah_,  memasuki bulan oktober nanti, ratusan pengusaha muslimah akan hadir _insyaa Allah_,  semoga Allah ridhoi _Aamiin_.

Point ketiga *"Penghafal Al-Qur'an"*
Karena saya seorang Penghafal Al-Qur'an, sekali pun 2,3,4,5 Juz pun tak sampai, tapi dengan keyakinan akan janji Allah _"Allah sendiri yang akan memudahkan bagi setiap insan yang mau mempelajari Al-Qur'an"_

Saya yakin, Allah pun akan memudahkan saya untuk menghafal Al-Qur'an, di group nanti, saya akan bekerjasama dengan sahabat-sahabat saya yang senang dengan Al-Qur'an untuk membimbing  para  muslimah yang ada di group,  sekali pun pada akhirnya nanti, tidak semua peserta group mampu menghafal,  tapi setidaknya saya akan berusaha dengan pertolongan Allah, agar  Al-Qur'an selalu di hati mereka. Insya Allah...

JADWAL GROUP

SENIN : *Bagi Materi Dari ADMIN (Komunikasi 1 Arah, hanya admin yang boleh share)* --->  _Mengenal. Nabi dan Sahabat Nabi Lebih Dekat_  (admin akan mengenalkan sekitar 500 wisudawan terbaik sahabat nabi yang bersumber dari buku wisudawan terbaik Rasul, mulai dari lahir, wafat hingga hikmah yang bisa di ambil).

SELASA: *Bagi Materi Dari Admin  (Komunikasi 1 Arah, hanya admin yang boleh share)* ---> _Mengenal Asbabun Nuzul Turunnya Ayat Al-Qur'an atau  Mengenal Hadis Nabi_ (Admin akan memberikan tulisan yang bersumber dari kitab terjemahan Tafsir Ibnu Katsir atau  Bukhori, Muslim).

RABU: *Bagi Materi Dari Admin (Komunikasi 1 Arah, hanya admin yang boleh share)* ---> _Mengenalkan Fiqih Sunnah, Wanita, Pernikahan._ (Admin akan memberikan salah satu materi yang bersumber dari buku)

KAMIS: *Sharing Tentang Kepenulisan*

JUMAT: Silent Group /Group Libur (Tidak ada chat sekali pun hanya ( .) *Kecuali admin*

SABTU: *Sharing tentang bisnis*

AHAD: *Malam Ahad bersama Al-Qur'an* ---> _Bisa bagi2 Mp3 Qur'an, Artikel Al-Qur'an, Diskusi tentang Al-Qur'an, Bagi-bagi Ebook Al-Qur'an. Pokoknya, hari ahad merupakan hari di mana Al-Qur'an selalu dibicarakan_

Satu lagi, karena saya seorang sarjana kesehatan, setiap peserta boleh bertanya terkait kesehatan melalui *(personal chat)* semoga bisa membantu.
Langsung ke *PERATURAN UNTUK PESERTA GROUP*

1. Setiap peserta selain boleh mengirimkan hasil karyanya sendiri,  boleh mengirimkan karya tulisan orang lain yang tentu saja harus berkaitan dengan 3 tema *Penulis, Pengusaha dan Penghafal*. Oya, bisa juga berbentuk ebook,video,mp3 dan lain-lain yang pastinya *Tidak hoaks*   Jika melanggar, dengan otomatis saya akan *KELUARKAN LANGSUNG* saya tekankan,  saya ingin peserta yang berada di group nanti merupakan peserta yang memiliki kesungguhan. Saya yakin *Jika peserta memiliki kesungguhan, pasti berusaha sekuat tenaga untuk tidak melanggar aturan*

2. Tidak ada obrolan yang  tidak penting. _Berbicara baik, benar atau diam_

3. Hari *senin, selasa, dan rabu* peserta boleh mengirimkan tulisan karya sendiri dan orang lain sampai *pukul 12 siang.*

4. Setiap peserta Wajib membaca *istighfar* setiap hari minimal *30 kali*, apakah ada laporan ke group? Tidak, biar Allah saja yang melihat.

5. *Batas chat* bagi setiap peserta, mulai dari  jam 3 Pagi sampai 10 malam. *kecuali admin*

*SYARAT UMUM PESERTA*

1. Memiliki niat Lillah
2. Mau terus belajar
3. Memiliki semangat tinggi
4. Punya minat di salah satu dari ketiga bidang (penulis, pengusaha, penghafal Al-Qur'an)

*SYARAT KHUSUS*

1. Share info ini ke 5 Group/Pribadi Medos  yang dipunya *(Tidak perlu Screenshoot, cukup jawab 'sudah')*
2. Follow Akun IG @khansa_saf (jika tidak punya IG tidak apa-apa)
3. Punya mimpi memiliki buku karya sendiri (jika tidak punya mimpi tidak apa-apa)
4. Punya cita-cita menjadi hafidzah
5. Punya keinginan menjadi pengusaha muslimah sukses.

*Jika syarat umum dan khusus sudah dipenuhi, segera konfirmasi dengan format*

Nama- Minat- Domisili- Alasan Ingin Masuk Group

Contoh : Langit- Penulis-Jakarta- Ingin bermanfaat untuk orang banyak *(atau)* Khansa -Penulis, Pengusaha, Penghafal-Banten- ingin menjadi pengusaha sukses.

Kirim ke: 083872408561 

Selengkapnya: www.khansasaf.blogspot.com / 083872408561 (langit)

_Lakukan apa yang kita mampu saat ini_

*Khansa S@F*

Saturday, August 26, 2017

Era Baru

Khansa S@F

Sudah hari sabtu saja, rasanya begitu cepatnya waktu berlalu Baiklah, untuk tips kali ini izinkan saya berbagi hasil diskusi kemarin bersama pencinta sastra negeri ini.

Awalnya saya tidak mau mengikuti trend   zaman yang semakin berkembang seperti ini, alasannya saya tidak mau terbawa arus, tapi jika saya hanya berdiam diri tanpa mau bebenah diri, ini pun tidak baik juga. Memang, saat saya dan kamu dituntut untuk mengikuti zaman, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita pun butuh 'persiapan' yang matang, agar saat kita terjun langsung di era zaman yang serba modern ini, mudah-mudahan kita mengikuti trend yang  tidak menjebloskan kita ke jurang kesia-siaan, tapi justru sebaliknya. Singkatnya, kita boleh bahkan harus mengikuti zaman yang kian berkembang ini dengan bekal ilmu, akhlak, iman dan segala kebaikan yang lainnya, karena jika tanpa itu semua, dikhawatrikan kita malah akan terwarnai dan menikmati era yang serba canggih ini dengan kesia-siaan yang abadi.

Baik, pindah kepersoalan menulis. berbicara masalah menulis, tentu erat kaitannya dengan pena,kertas, naskah, ide, karya dan teman-temannya. Lantas, bagaimana kabar menulis di era digital/modern seperti ini? Apakah harus melulu menggunakan pena, kertas dan sejabarnya? Mari kita lihat.

Pena mungkin suatu saat akan sirna, karena bahan-bahan yang ada di bumi pun  telah habis terpakai, begitu juga kertas, pohon-pohon suatu hari nanti juga akan habis. Sekarang saja, kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita sudah memasuki era digital, saya menulis ini pun bukan menggunakan pena lagi, melainkan menggunakan alat  kotak kecil yang biasa dibsebut dengan smartphone, salah satu alat yang lahir di masa digital saat ini, dengan benda kotak kecil ini, saya tidak perlu lagi membeli pena, kertas dan capek-capek menulis dengan tulisan yang belum tentu terbaca oleh orang.

Lalu bagaimana dengan buku? Apakah seseorang jika ingin membaca buku harus melulu menggunakan buku fisik ? Sepertinya tidak, saat ini banyak juga orang-orang yang membaca buku  menggunakan smartphonenya.  Kemarin, saat berdiskusi, salah satu pemateri menceritakan hasil risetnya, beliau meneliti orang-orang yang tak lepas dari buku. Mulai. dari setiap bulan rutin membeli buku, setiap keluar selalu membawa buku dan satu lagi saya lupa, yang intinya kesemua responden tidak lepas dari buku. Nah, hasil penelitiannya, orang-orang yang selalu bersama buku itu saat ini mulai beralih membaca hingga membeli  buku menggunakan smarphone yang digenggamnya. Orang yang setiap bulan membeli buku tetap beli buku tapi beli buku digital bukan fisik, orang yang setiap hari keluar tak lepas dengan buku pun sekaramg tidak membawa buku lagi, melainkan membaca buku di dalam smartphonenya.

Tentu saya akui, bagi saya dan sebagian orang beranggapan bahwa, salah satu prestasi terbesar bagi seorang penulis ialah memiliki buku fisik. Tanpa buku fisik, rasanya seorang penulis itu belum menjadi seorang penulis seutuhnya, benar?

Dalam tulisan ini, Saya hanya ingin memotivasi kepada teman-teman yang belum memiliki atau belum diberi kesempatan untuk menerbitkan buku secara fisik agar tidak berkecil hati. Saat ini, jaman sudah memasuki era digital atau modern. Soo, mari kita ekspresikan karya yang kita punya dengan memanfaatkan era ini sebagai ajang pembuktian.

Perlu kamu tahu, banyak terlahir penerbit-penerbit digital, jadi mereka menerbitkan buku secara digital tidak dengan fisik. Jadi, rasanya tidak ada alasan lagi bagi kita untuk berhenti berkarya karena tuisan kita tidak diterbitkan secara fisik, karena masih banyak peluang-peluang lain yang sebenarnya menanti tulisan kita, salah satunya jika kita mau dan sadar betapa masa yang serba canggih ini amat bermakna jika kita tidak sia-siakannya.

Teman, sudah sepatutnya kita sadar, saat ini kita sudah memasuki masa di mana semuanya serba canggih, makanya, _open your mind_, _open your eyes_, _open your heart_,  manfaatkan masa ini untuk berperan aktif menyebarkan kebaikan dengan terus berkarya  semata-mata  untuk mendapat rindo-Nya.

Wallahua'lam.

Bumi, 26 Agustus 2017

Thursday, August 24, 2017

Jangan Asal-asalan

Oleh: Khansa S@F

Saya rasa, tips kali ini,  hampir sampai di akhir tips menulis. Sebelum ke inti,  saya ingin mengajak kamu berpikir sedikit mendalam. Mudah-mudahan dengan ini kamu mengerti apa yang saya maksud dalam tips kali ini.

Teman, kamu harus tahu, Allah Tuhan saya dan Tuhan kamu pernah bersumpah dengan nama pena (Al-Qolam: 1) Ini artinya apa? Sumpahnya Allah tentu bukan sembarang sumpah kan? Maka dari itu, rasanya amat disayangkan jika kita hanya menulis tanpa makna dan tanpa tahu kenapa kita harus menulis.

Begini, dari awal saya sudah memberi tahu tips kepada kamu, mulai dari niat, harus semangat, jangan malas, jangan malu, harus PD (percaya diri) dan lain sebagainya.

Awal-awal, untuk membiasakan menulis, memang  kita boleh menulis apa saja, tapi kita harus ingat, dalam tulisan yang kita torehkan, ada sebuah pesan yang sebenarnya ingin Allah sampaikan.

Sebelum saya menulis ini tentu saya pun merenung dan bertanya, 'apakah perkataan saya ini layak?' Saya hanya ingin kamu tahu, bahwa untuk menjadi seorang penulis itu ternyata tidak semudah yang kita bayangkan.

Baru kemarin saya mengikuti seminar yang tentu saja pematerinya didatangkan dari penulis senior. Dan dari apa yang beliau utarakan, ada beberapa kalimat yang menarik perhatian saya. Kata beliau, 'Dalam hal menulis pun ternyata melatih kesabaran lebih penting daripada latihan  menulis itu sendiri'. Ini artinya apa coba? Coba deh lihat, atau tanya penulis-penulis terdahulu, mereka menulis butuh perjuangan, selain tidak mudahnya akses media, tentu dalam mengolah kata pun membutuhkan waktu yang amat lama dan untuk sampai tulisannya sampai ke media, mereka membutuhkan waktu berbulan-bulan. Tentu saat itu, mereka bukan hanya harus menyetok tulisan, tapi juga menyetok kesabaran dan lapang dada, karena mau tidak mau, mereka harus siap-siap manakala naskah yang mereka kirim tidak di muat juga.

Ini hanya sebagian kecil yang kamu harus tahu bahwa memang untuk menjadi seorang penulis itu bukan hanya skill menulis yang harus dipunya melainkan juga kesabaran dan keahlian,  yang lainnya.

Mungkin itu dulu, beda halnya dengan jaman sekarang, atau sama saja? Sepertinya berbeda, jika dulu, banyak penulis yang berbobot hingga menghasilkan tulisan yang berbobot pula, lainhalnya dengan sekarang, banyak penulis-penulis yang bermunculan tapi karyanya? Biasa-biasa saja.

Apa bedanya? Jelas berbeda, penulis dulu tidak bertindak instan dalam menulis, namun penulis sekarang, instan menjadi kebutuhan yang tak bisa dilepaskan. Makanya, kebanyakan dari penulis sekarang, tidak banyak yang sabar hingga karya yang sebenarnya perlu diperbaiki pun berseliweran tanpa tahu apakah sebenarnya tulisan itu 'layak' untuk dipublikasikan.

Saya akui, saya termasuk penulis yang kurang sabaran, semakin berjalannya waktu saya sadar, ternyata memang benar, untuk menjadi seorang penulis itu bukan hanya keahlian menulis saja yang harus dimiliki, melainkan banyak keahlian-keahlian yang harus dipelajari.

Ini baru pembukaan, sebenarnya inti dari tulisan ini ada setelah ini.

Tentu, dalam setiap perbuatan tergantung niatnya bukan? Nah, dalam hal menulis pun demikian.

Jika kamu sudah tahu niatmu menulis untuk apa, saya yakin, tulisan-tulisan yang lahir dari penamu akan mengarah ke niatmu itu.

Jujur, saat mendengar beberapa pemateri yang memaparkan bahwa pembaca yang terbanyak ada di  fantasy, prosa atau romance. Pasti kita akan berpikir atau ada niatan untuk menulis tulisan yang banyak orang membacanya. Tujuan atau niat awal kita karena ingin apa yang kita tulis banyak orang yang berminat kepada tulisan kita tersebut, benar? Tapi... tunggu dulu teman, kamu harus sadar, kamu bukan lagi seorang penulis yang berkehendak semaunya, tapi kamu adalah seorang penulis yang sadar bahwa Allah, Rabb mu dan Rabb ku sudah bersumpah dengan sebuah pena. Itu artinya, apa-apa yang kamu tulis tentu tidak terlepas atau harus ada sebuah pesan agar orang yang membaca tulisanmu semakin mengenal-Nya. Tentu ini memang tugas berat. Tapi, saya percaya jika kamu sudah putuskan menulismu dijadikan sebagai ladang dakwah, Insya Allah, Dia yang sudah bersumpah pun tidak serta merta membiarkanmu menulis tanpa makna sama sekali. Pasti Dia akan mengarahkan apa-apa yang kamu tulis semata-mata tidak lepas dari bagian titah-Nya.

Baik, tidak perlu panjang kata sepertinya, mudah-mudahan kamu mengerti. Awalnya memang, saya menulis ya menulis saja, tidak ada yang membaca baper, tidak ada yang kritik sedih, tidak ada yang memuji tambah sedih. Tapi lama kelamaan, ternyata saya tidak butuh sanjungan dan pujian orang, like orang, atau ketenaran yang cetar. Tapi saat saya yakin dalam setiap tulisan yang saya buat ada pesan Rabb yang menciptakan, tentu saya akan sebar. Sekali pun tanpa komentar,like dan sebagainya.

Kamu harus ingat teman, apa-apa yang kita kerjakan kelak akan dipertanggungjawabkan.

Maafkan saya ya, jika dalam torehan pena yang selama ini saya buat, mengandung kata yang membuatmu  jauh dari Tuhan.

Wallahua'lam.

Bumi, 24 Agustus 2017

Sunday, August 20, 2017

Ada Imam Di Mimpiku #4

Oleh: Khansa S@F

"Pekan depan kita ngaji di kosan kamu yuk" ajak Zeze semangat.

Saat mendengar kata 'kosan', aku kembali teringatkan akan sosok laki-laki yang semalam, sekarang, apa dia masih di sana? Atau memang, laki-laki semalam hanya dalam mimpi saja.

"Ehm..." gumanku.

Sebenarnya aku ragu menjawab kata 'iya' karena aku takut laki-laki semalam masih ada. Tapi, bukankah tadi pagi Mustika bilang kalau aku memang belum menikah?

"Ayolah, Isna. Di kosan kamu kan jarang ada orangnya, lagipula kalau hari ahad, tetangga kamar pada pulang kan?" Tanya Mustika memastikan.

"Ahad?"

"Eh, minggu maksudnya hihihi"
Jika aku bergabung dengan Gengnya Mustika, kata-kata baru yang aku lebih senang menyebutnya, 'kosa kata islami' sering aku dapat. Aku sering mengatakan 'kebetulan', tapi mereka selalu mengucapkan 'qodarullah (taqdir Allah), _"Di dunia ini tidak ada yang kebetulan, yang ada hanya qodarullah"_ ucap Zeze saat Hp ku diambil copet beberapa pekan lalu. Kata 'ahad' juga masih asing ditelinga dan mulutku, karena aku sering mengatakan 'minggu'. Tapi saat berjumpa Gengnya Mustika, mereka selalu mengenalkanku dengan kosa kata islami ini.

"Ehm, kayaknya di taman Harapan aja deh jangan di kosanku, kosanku berantakan, malas beresinnya,"

Aku bingung apa alasan yang aku berikan pada mereka agar pekan depan ngajinya tidak di kosanku. Aku masih takut jika laki-laki semalam masih ada di sana, jika memang masih ada, apa yang harus kuucapkan pada mereka? Pasti mereka bertanya-tanya.

"Heyy, Na. Kamu kenapa?" Kata Zeze sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku.

"Mmm, tidak apa-apa hehehe" jawabku berusaha tidak kaku.

"Yasudah, ahad depan kita ngajinya di taman Harapan saja ya, nanti aku akan bilang sama Ustadzah, biar sekalian pengajiannya disatukan dengan adik tingkat kita" kata Mustika semamgat.

"Atur saja, yang penting aku ngaji hehehe" kataku.

"Oke"

***

Hari ini harusnya aku belajar tahsin di masjid kampus, tapi karena suasana UAS, lembaga Al-Ihsan sang penyelenggara tahsin akhirnya meliburkan. Aku sendiri setelah bercakap ringan dengan Mustika dan Zeze di kantin memutuskan untuk pulang, karena hari senin ada UAS perdana juga.  aku pun yang biasanya ikut nongkrong, hari ini  tidak ikut nongkrong di warung sebelah bareng Gengnya Putri.

Oya, selain aku sering bergabung dengan Gengnya Mustika, aku juga sering ikut-ikutan dengan  Gengnya Putri. Kalau ini, jumlah personilnya ada lima orang, aku yang ke enam. Si Putri ini sering nongkrong di warung sebelah (warung jalanan dekat kampus). Aku senang bergabung dengan Putri, anaknya baik,  gaul dan asyik, tapi ya itu, harus sabar menahan hawa nafsu hehe karena gengnya si Putri ini suka ngajak main dan jajan terus.

Si putri sempat bertanya padaku terkait kedekatanku dengan Zeze dan kawan-kawan. Aku sih jawab santai saja, tapi aku bersyukur dengan bergabungnya aku bersama si Putri, saat waktu solat datang, aku sering mengajak mereka untuk solat di mushola kampus, mereka tidak menolak, malah senang, _"Jangan ninggalin kita ya, Na. Kalau engga ada kamu, nanti siapa yang ngingetin kita buat solat?"_ Ucap Putri beberapa waktu lalu.

Sebenarnya, Putri anaknya baik, geng mereka pun tidak nakal, tapi karena rata-rata anggota gengnya broken home semua,  jadi ya seperti itu. Padahal keluarga mereka termasuk keluarga yang bercukupan.

"Haha, tenang. Lagipula aku senang, soalnya kamu sering traktir aku terus wkwkkw" jawabku sambil becanda.

Jujur, aku senang saat putri berucap demikian.

Tak terasa, sangking asyiknya mendengar MP3 murotal Q.S An-Naba (maklum, ngaji pekan depan aku harus setoran hafalan jadi ceritanya sekaramg lagi semangat murojaahnya hehe), kini aku sudah di gerbang kosan. Eehmm... apa laki-laki itu masih ada? Entahlah.

Bersambung.

Thursday, August 17, 2017

Masalah Copy Paste (COPAST)


Oleh : Khansa S@F

Pernah Copast tulisan orang? Pasti sering ya, hehehe. Sebenarnya saya tidak mau membahas ini, tapi karena malam ini ingin menulis terkait ini, saya coba menuliskannya, semoga ada pelajaran yang dapat diambil, aamiin.

Bermula dari seorang sahabat yang memberitahu saya akan tulisan saya yang dicopas orang yang tak dikenal inilah tulisan ini ada.

Jadi ceritanya begini...
Di sebuah group WA.

"Tulisan kamu Vi, tapi dihapus namamya 😪, itu tulisan kamu kan, Vi?" Tanya seorang sahabat sambil menyodorkan hasil  screnshoot nya.

"Iya, tidak apa-apa biarin ajaa hehe... mungkin niat dia juga ingin berbagi..." jawabku santai

"Berbagi atau nyontek tulisan orang??  #mariberpikirkeras 🤔🤔🤔🤔" kata salah satu sahabatku yang lain.

Di group yang dibuat ini ada 3 orang anggota, salahsatunya saya.  Group Love namanya :)

"Sebetulnya, makhluk emang tidak ada hak cipta sesungguhnya. Karena rangkaian tulisan kita itu tidak lain ilmu yang Allah kasih ke kita. Jadi ahsannya (baiknya) penulis engga merasa tersinggung apalagi galau cuma gara-gara ini ya, Vi. Ambil hikmahnya aja, semakin banyak tulisan kita dishare semakin banyak orang  liat dan mudah-mudahan bawa manfaat. Pahala engga pernah ketuker. Jadi santai ajaa... hihihi.  Cuma nasihat aja buat orang yg suka copas, adab menshare ilmu itu mencantumkan sumbernya.
Keberkahan diliat dari cara perolehnya, toh?" Kata salah satu sahabatku.

Iya, dari awal, niat saya menulis memang untuk lillah (semoga istiqomah :')),jadi saat ada orang yang Copast tulisan, saya santai-santai saja, malah senang, tapi memang benar apa yang diucapkan sahabat saya, dari semua aspek kehidupan yang kita jalani ini, tentu ada adab dan etikanya.

Sekali pun saya sudah tanamkan dalam hati dan diri saya bahwa apa yang saya miliki saat ini memamg bukan milik saya, apa yang saya tulisan saat ini memang Allah lah yang memberi ilmumya, tapi tetap, saya pun sebagai manusia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti adab/aturan yang ada.

Teruntuk saya dan kamu yang suka copast, semoga ke depan, kita lebih cerdas dalam menyikapi hal ini.

Sebenarnya, saya sendiri kurang suka copast tulisan orang, lebih suka share tulisan sendiri, agar saat ada orang yang menggugat bisa langsung dipertanggungjawabkan. Tapi tetap, tak jarang  tangan ini begitu gatalnya ingin  mengcopas tulisan orang.

Makanya, jika sudah tahu demikian, ada baiknya,  jika kita ingin copast tulisan orang, pakailah adab dan etikanya, dan cermati serta amati tulisan yang akan kita copas terlebih dahulu. Karena bagaimana pun, apa yang saat ini kita kerjakan pasti nanti akan dipertanggungjawabkan, kan? :)

Bumi, 17Agustus 2017 21:15 Wib

Wednesday, August 16, 2017

Merayakan Hari Merdeka?

Oleh: Khansa S@F

Sepertinya sudah saatnya saya bercerita, bagaimana seharunya kita merayakan hari kemerdekaan sebenarnya.

Beberapa hari menjelang Kemerdakaan Republik  Indonesia, setiap penduduk, instansi, sampai kampung-kampung pun pasti bersuka cita menyambut kedatangan hari merdeka.

Kesukacitaan mereka salah satunya dibuktikan dengan diadakannya berbagai macam lomba, yang sering disebut oleh kita-kita sebagai "lomba agustusan" yang katanya merupakan salah satu bagian dari sambutan sebelum tanggan 17 Agustus dimulai.

Tengok pula petugas pengibaran Sang Merah Putih, berbulan-bulan mereka latihan. Panas-panasan, rela mengorbankan waktu belajar di sekolah dan tentu saja mengorbankan kulit halusnya terbakar demi tampil di tanggal 17 Agustusan yang katanya diperingati sebagai hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pernah kah berpikir mendalam? Sebenarnya, bagaimana seharusnya kita memperingati hari kemerdekaan.

Di salah satu kampung dekat daerah saya, memasuki bulan Agustus, kampung itu sibuk menata kampungnya dengan pernah pernik kemerdekaan. Dari SMA sampai sekarang pun saya amat kagum pada kampung tersebut, karena dari sekian kampung, kampung yang benar-benar saya rasa merayakan hari kemerdekaan memang kampung itu. Kampung saya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kampung itu.

Awalnya saya tidak mau tahu, kenapa saat Agustusan, kampung itu benar dan sungguh-sungguh menyambut hari kemerdekaan. Sampai kemarin saya mendengar cerita teman, akhirnya saya tahu kenapa kampung tersebut begitu sungguh-sungguhnya menyambut hari kemerdekaan RI.

Mau tahu kenapa? Saat penjajahan dulu, di kampung tersebut merupakan salah satu pusat pemerintahan Belanda, dan di daerah kampung itu juga sering terjadi pengeboman yang cukup dahsyat. Dan tentu saja, perlawanan serta perjuangan pejuang di kampung itu tidak diragukan lagi. Hingga, sesepuh yang ada di kampung tersebut benar-benar meresapi dan menghayati bagaimana perjuangan pejuang kemerdekaan dulu mempertahankan daerah tersebut, makannya, saat memperingati hari kemerdekaan RI, kampung tersebut benar-benar menyambutnya dengan penuh suka cita. Jelas saja, mereka melakukan itu semua untuk mengenang bagaimana perjuangan pejuang di daerah mereka mempertahankan daerah mereka mati-matian.

Kalau kamu melihat kampungnya, pasti kamu pun akan senang berlama-lama memandangnya.

Kampung itu melakukan penyambutan kedatangan hari kemerdekaan  karena ada 'sebab'. Nah, sekarang banyak bahkan hampir seluruh penduduk Indonesia termasuk saya dan kamu pasti memperingati hari kemerdekaan juga. Tapi, nilai atau tujuan apa sebenarnya yang membuat kita merayakan hari raya kemerdekaan RI?. Apakah hanya karena ikut-ikutan saja? Atau hanya karena ingin sekadar mengikuti perlombaan saja?  Atau karena hal lain. Dan tentu,  cara merayakan hari merdeka antara saya dan kamu pun berbeda. Tergantung, sebab, niat serta tujuannya.

Sekarang, mari kita samakan, sebenarnya cara untuk meryakan hari merdeka  itu bagaimana sih? Apakah memang benar mengikuti perlombaan balap karung atau baris-berbaris itu sudah termasuk kategori merayakan hari kemerdekaan? Atau, kita datang berbondong-bondong ke lapangan untuk melangsungkan upacara hari kemerdekaan itu sudah termasuk merayalan hari kemerdekaan? Atau kita dengan menangis dan bersimpuh memghadap Tuhan memohonkan ampun para pejuang kemerdekaan agar Dia beri kesyahidan itu sudah cukup meryakan hari kemerdekaan?.

Mulai sekarang, coba deh jangan ikut-ikutan teman merayakan hari kemerdekaan dengan hal-hal yang tidak cukup berguna. Tapi cobalah, renungi dan hayati bagaimana kita merayakan hari kemerdekaan dengan sebenarnya.

Saya sendiri, jujur ingin meneteskan air mata, karena bagi saya, saat ini, Negeri tidak lagi merdeka. Mungkin, jika si Negeri jadi manusia, pasti dia akan meringkih dan menangis karena melihat ulah pengisinya banyak yang sudah hilang kendali dan  adabnya. Atau, jika Allah izinkan pejuang kemerdekaan hidup kembali, pasti mereka akan menangis dengan sejadi-jadinya karena melihat Negeri yang mereka perjuangkan dulu kini mulai  hancur perlahan lagi-lagi karena ulah pengisinya yang mulai memiliki kepentingan pribadi.

Saya tertegun mendengar kisah dari Nenek dan Kakek tercinta yang menceritakan perjuangan mereka melawan penjajah dulu. Bayangkan, saat tengah malam tiba,  dengan hanya berbekal obor, mereka harus lari ke hutan meninggalkan rumah dan isinya demi menyelamatkan nyawa. Yah, para penjajah sering datang malam untuk beroperasi tak jarang rumah-rumah yang ditinggal, dibakar dan apa yang ada dalam isi rumah dicuri.

Begitu bencinya, para orangtua dahulu terhadap bangsa asing. Terlihat dari bagaimana ekspresi Nenek dan Kakek menceritalan kisah perjuangannya.

Sayang, sekarang di Negeri ini, Negeri yang saya amat cintai, banyak dari penguasa malah berteman akrab dengan bangsa asing, bangsa yang jelas-jelas dibenci oleh para pejuang yang membela Tanah air  dengan nyawa taruhan.

Masih banyak sebenarnya yang ingin saya uraikan, namun saya urungkan. Biarlah kamu saja yang berpikir mendalam.

Mulai sekarang, cobalah pintar dalam merayakan hari merdeka. Jangan hanya ikut-ikutan, atau acuh tak acuh berkepanjangan. Sudah selayaknya, kita jadikan hari merdeka sebagai hari perenungan dan pembelajaran. Dan tentu, sudah saatnya juga  kita harus pintar bagaimana seharuanya memilih merayakan hari kemerdekaan.

Kamu mau pilih yang mana? Merayakan hari kemerdekaan dengan lebih banyak kesia-siaan, atau merayakan hari merdeka dengan penuh penghayatan dan perenungan yang mendalam? Atau ada hal lain? Silakan pikirkan.

Sebelum tulisan ini diakhiri, saya ingin kamu berdoa kepada Dia, Allah Yang Maha Esa, agar Dia ampuni segala dosa serta tempatkan para pejuang kemerdekaan dulu di tempat yang terbaik.

"Ya Allah, perjuanganku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka (para pejuang kemerdekaan dahulu), tapi izinkan aku berdoa, semoga Engkau ampuni dosa mereka dan menerima amal ibadah mereka, aamiin"

Wallahu'alam.

Rabu, 16 Agustus 2017 23:00 Wib.

Www.khansasaf.blogspot.com