Cerita
dari teman
Khansa
S@F
Aku
ingin sedikit berbagi cerita, hanya sedikit namun aku berharap dengan ceritaku
yang sedikit ini, aku mengharapkan pembaca mendapatkan pelajaran yang banyak.
Kejadian
hari ini sungguh sangat membuatku semakin sadar, selain betapa kecilnya diriku
di hadapanNya dan betapa bodohnya diriku, karena sering melupakan dan
menyianyiakan apa yang sudah diberikanNya kepadaku.
Siang
itu aku dan dua temanku pergi menuju pameran buku, tidak ada kejadian aneh
selama di tempat itu, seperti biasa banyak manusia yang hilir mudik berganti
bersinggah dari stan satu menuju stan yang lainnya. Pada saat itu atas izin
Allah aku dalam keadaan saum ayamul bidh, jadi ketika dua temanku menyantap
hidangan makan siang, aku menunggu dengan bertilawan, alhamdulillah tidak memainkan HP, sehingga ketika dua temanku
selesai makan, 1 juz sudah selesai. Entah mengapa hari-hari ini aku merasa
dekat denganNya, apakah ini akibat dari doaku? Tidak perlu di masalahkan
masalah itu, yang jelas aku sangat bersyukur atas karuniaNYa. Selanjutnya... kami bertigapun berkeliling melihat-lihat
buku yang terpajang di setiap stan. Pada saat itu... hatiku beristighfar
sehingga mulutkupun ikut berucap Lafadz itu... tidak seperti biasanya aku
melakukan hal itu, namun lagi-lagi aku bersyukur karena Allah mengzinkanku
untuk beristighfar kepadaNya. Akhirnya
setelah kami bertiga puas berkeliling, karena jam sudah menunjukan pukul 4
sore, kamipun memutuskan untuk pulang. Lagi-lagi Atas izin Allah jalan yang
semula kami bertiga lewati di tutup, sehingga kamipun mencari jalan lain yang
jika di bandingkan dengan jalan yang pertama lebih jauh, namun karena tidak ada
pilihan lain, kami bertigapun memutuskan untuk memilih jalan yang lumayan jauh
itu. sebenarnya badan sudah lemas ingin sekali segera mendapatkan mobil untuk
pulang, namun karena jarak kami ke jalan raya cukup jauh, akupun menguatkan
tubuhku agar tetap terus berjalan. Disepanjang perjalanan aku melihat begitu
banyak sekali manusia, ada yang sedang berlatih main bola, ada yang sedang
berjalan bergerombol, ada yang sedang turun dari mobil rombongan, ada juga yang
sedang menyantap jajanan. Hingga akhirnya aku
merenung... aku membayangkan bagaimana keadaan di padang mahsyar
nanti... mungkin lebih ramai daripada ini semua, bagaimana tidak... umat dari
nabi adam sampai muhammad berkumpul di
padang itu, mengantri untuk dimintai pertanggung jawaban. Segera ketika itu aku
segera beristighfar kepadaNya. Ternyata satu temanku juga membayangkan
bagaimana ketika banyaknya orang seperti itu terjadi suatu bencana besar,
kembali aku beristigfar.
Hingga
akhirnya kami bertigapun sampai di jalan raya, aku dan temanku satu mobil
karena satu arah, namun temanku yang satunya menyebrang karena tidak satu arah.
Kami bertigapun bersalaman mengucap salam, tak lama setelah itu mobil yang biasa
kita sebut kopajapun datang, aku dan temankupun menaiki mobil itu dengan lafadz
bismillah. Atas izin Allah kami
berdua bisa duduk, karena sebelumnya temanku sempat berdoa “Ya Rab... Mudah-mudahan kami dapat tempat duduk” hanya kata Aamiin yang kupanjatkan ketika di
perjalanan itu, dan alhamdulillah
berkat doa temanku kami berdua bisa duduk. Tak lama mobil berjalan, mobil
kopaja kembali berhenti. Terlihat yang menaiki mobil kopaja sekelompok anak
muda yang kira-kira SMA kelas satu dan dua dengan satu orang membawa piala,
jumlah mereka berkisar sepuluh orang ada wanita dan laki-laki. Setelah mereka
naik, tentu saja mobil menjadi sempit dan mendadak ramai. Aku sedikit melirik
melihat salah satu remaja yang sedang menghisap rokok, ternyata teman di sebelahnyapun merokok, aku hanya
bisa mearik nafas panjang melihat fenomena itu. aku berpikir... inikah generasi
bangsa saat ini?, lamunanku terpecah ketika temanku berbisik lirih kepadaku “ Alhamdulillah Allah sayang padaku,
sehingga memperkenalkanku dengan tarbiyah, aku tidak bisa bayangkan, jika dulu
aku tidak mengenal tarbiyah” aku hanya tersenyum tipis mendengar bisiknya.
Lagi-lagi atas izin Allah, aku bersyukur Allah memberiku lingkungan yang baik, aku
hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan hidayah kepada remaja-remaja yang ada
di mobil kopaja itu, aku hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan petunjuk
kepada mereka, aku hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan kesempatan kepada
mereka mendapatan lingkungan baik, sebagaimana Allah telah meberiaknnya
kepadaku. Belum selesai aku merenung, tiba-tiba mobil berhenti, dan beberapa
penumpang menoleh kearah kiri, aku dan
temankupun ikut melihat ke arah kiri, karena waktu itu aku duduk di pinggir
dekat kaca, aku melihat kerumunan orang dan satu orang terbaring dengan
mengenakan jaket hitam, celana hitam, terlihat wajahnya masih sangat bugar dan
gagah namun ada sedikit darah di wajahnya. Mendengar perkataan knek mobil
bertanya kepada kerumunan itu, ternyata terjadi kecelakaan dan orang yang
berbaring yang aku lihat tadi meninggal. Subhanallah... aku tidak menyangka
orang yang tadi kulihat gagah di panggil olehNya. Mendengar kata knek bahwa
orang yang berbaring tadi meninggal, segera aku dan temanku mengucapkan innalillahiwainnailaihirojiuun...
sungguh betapa gampang sekali Allah mengambil nyawa. Karena memang nyawa dan
jasad milikNya. Aku bergetar melihat kejadian itu. dia sudah mendapat giliran
untuk bernghadap denganNya, akupun sekarang menunggu giliran kapan aku di
panggil olehNya, aku milik Allah, aku sungguh kecil di hadapanNya, ya Allah..
kematian memamng setiap detik mengintaiku, namun... aku tidak sadar akan hal
itu, maafkan aku Ya Rabb... aku sering lalai padamu maafkan hambamu ini Ya
Rab...
Akhirnya
setelah beberapa menit mobil kembali melaju, temankupun turun dari mobil.
Hingga akhirnya kitapun berpisah. Kembali aku melanjutkan perjalanan dan
kembali aku merenung ... pada saat itu hujan turun namun tidak begitu lebat,
pada saat itu, karena aku tahu hujan adalah rizki maka ketika hujan turun aku
selipkan doa kepadaNya “ Rabbi...
istiqomahkan aku di jalanMu...” aku selalu memanjatkan doa itu baik ketika
sholat lima waktu, maupun ketika aku terzolimi, atau ketika hujan turun.
Tak
berapa lama kemudian, akupun turun dari mobil dan melanjutkan perjalanan meuju
rumah. Seperti biasa aku bersiap-siap menunggu azan magrib berkumandang.
Setelah itu aku bergegas sholat, makan
mlam, tadarus, dan sambil nungggu azan isya aku sengaja membaca buku yang
beebrapa lembar lagi hatam. Azan isya pun berkumandang, tadinya aku berpikir
akan menghatamkan buku itu, karena memang tinggal beberapa lembar lagi, hatiku
berbisik “ sudahlah ... jangan dulu sholat nanggung tinggal 3 lembar lagi” namun
disisi lain hatiku berkata “ Ingat...
jangan nunda-nuda sholat nanti Allah cemburu!” setelah mendengar itu,
segera saja aku bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Aku
menyesali kenapa aku tidak segera bergegas mengambil air wudhu, kenapa aku
harus di pikir-pikir dulu, padahal itu panggilan Allah. Kembali setelah aku
berwudhu aku beristighfar.
Ku
hamparkan sajadah dengan sigap, selanjutnya sambil menunggu temanku berwudhu
aku ambil Qur’an kitab suciku, dan mulai tadarus. Satu lembar... dua lembar...
tiga lembar... mushaf Al-Qur’an ku baca, namun temanku masih tidak beranjak
dari tempat duduknya sambil memainkan Hpnya, aku selalu berprasangka baik
kepadanya, mungkin ada sesuatu yang penting jadi dia masih memegang Hp, kembali
aku melanjutkan tadarus, satu lembar... dua lembar... pada saat itu sebenarnya
aku sudah tidak sabar untuk menghadapNya, aku ingin segera bersujud kepadaNya,
namun aku ingat pahala berjamaah sangat besar jadi aku menunggu temanku itu,
hati mulai tidak sabar, hingga akhirnya aku memutuskan jika dalam satu lembar
dia tidak bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu aku akan sholat sendiri.
Ditengah tadarusku, diapun beranjak dari Hp nya menuju kamar mandi. Pikirku dia
langsung mengenakan mukena dan langsung menjadi imam shalatku, namun ketika
Hpnya berdering, kembali dia menuju Hp nya. Hati kecilku berteriak “ Wahaiiii
manusia!!! Apa kamu tidak malu! Apa kamu tidak sedih.... Allah memanggilmu...
kenapa kamu sibuk dengan Hpmu, dia merindukan sujudmu... dia ingin melihat
hambanya bersimpuh, namun kenapa kamu memilih panggilan Hpmu daripada
panggilanNya....nanti ... jika kamu mati apa yang akan kamu katakan
kepadaNya... mungkin di akhirat kelak ketika Allah menanyakan apakah kamu
mencintaiNya dan kamu menjawab Ya Aku
mencintaiMu Ya Rab... berkata Allah DUSTA!!! KAU DUSTA!!!, KAMU BILANG
MENCINTAIKU TAPI KENAPA DI SAAT AKU MEMANGGILMU KAU HIRAUKAN PANGGILAN ITU!!!”
Satu
lembar sudah aku tadarus, hingga akupun segera berdiri dan melaksanakan Sholat
Isya sendiri... ya sendiri... sementara dia kembali sibuk dengan Hpnya...
Aku
hanya bisa berdoa untuk teman-teman yang
aku mencintainya karenaNya... Ya Allah.. berikanlah hidayah kepda teman-temanku
yang belum mendapatkan hidayah... berikanlah kesadaran kepada teman-temanku
bahwasanya betapa besar karuniaMu... Ya Allah ampunilah dosa-dosa
teman-temanku.... doa inilah yang sering aku panjatkan ketika selesai sholat
fardu, aku berharap doa yang kupanjatkan berdampak kepada teman-temanku yang
berada dimana saja yang karenaNya aku mencintainya.
Hari
ini.... begitu banyak pelajaran yang aku dapatkan, aku sangat bersyukur karena
Allah memebrikan rasa takut kepadaku, terimaksih ya Allah ... karena rasa takut
itu... aku semakin ingin mendekatiMu... Allahku... Istiqomhkan Aku di
Jalanmu...

No comments:
Post a Comment