Saturday, November 8, 2014

Atas Izin Allah




Cerita dari teman
Khansa S@F
Aku ingin sedikit berbagi cerita, hanya sedikit namun aku berharap dengan ceritaku yang sedikit ini, aku mengharapkan pembaca mendapatkan pelajaran yang banyak.
Kejadian hari ini sungguh sangat membuatku semakin sadar, selain betapa kecilnya diriku di hadapanNya dan betapa bodohnya diriku, karena sering melupakan dan menyianyiakan apa yang sudah diberikanNya kepadaku.
Siang itu aku dan dua temanku pergi menuju pameran buku, tidak ada kejadian aneh selama di tempat itu, seperti biasa banyak manusia yang hilir mudik berganti bersinggah dari stan satu menuju stan yang lainnya. Pada saat itu atas izin Allah aku dalam keadaan saum ayamul bidh, jadi ketika dua temanku menyantap hidangan makan siang, aku menunggu dengan bertilawan, alhamdulillah tidak memainkan HP, sehingga ketika dua temanku selesai makan, 1 juz sudah selesai. Entah mengapa hari-hari ini aku merasa dekat denganNya, apakah ini akibat dari doaku? Tidak perlu di masalahkan masalah itu, yang jelas aku sangat bersyukur atas  karuniaNYa. Selanjutnya...  kami bertigapun berkeliling melihat-lihat buku yang terpajang di setiap stan. Pada saat itu... hatiku beristighfar sehingga mulutkupun ikut berucap Lafadz itu... tidak seperti biasanya aku melakukan hal itu, namun lagi-lagi aku bersyukur karena Allah mengzinkanku untuk beristighfar kepadaNya.  Akhirnya setelah kami bertiga puas berkeliling, karena jam sudah menunjukan pukul 4 sore, kamipun memutuskan untuk pulang. Lagi-lagi Atas izin Allah jalan yang semula kami bertiga lewati di tutup, sehingga kamipun mencari jalan lain yang jika di bandingkan dengan jalan yang pertama lebih jauh, namun karena tidak ada pilihan lain, kami bertigapun memutuskan untuk memilih jalan yang lumayan jauh itu. sebenarnya badan sudah lemas ingin sekali segera mendapatkan mobil untuk pulang, namun karena jarak kami ke jalan raya cukup jauh, akupun menguatkan tubuhku agar tetap terus berjalan. Disepanjang perjalanan aku melihat begitu banyak sekali manusia, ada yang sedang berlatih main bola, ada yang sedang berjalan bergerombol, ada yang sedang turun dari mobil rombongan, ada juga yang sedang menyantap jajanan. Hingga akhirnya aku  merenung... aku membayangkan bagaimana keadaan di padang mahsyar nanti... mungkin lebih ramai daripada ini semua, bagaimana tidak... umat dari nabi adam  sampai muhammad berkumpul di padang itu, mengantri untuk dimintai pertanggung jawaban. Segera ketika itu aku segera beristighfar kepadaNya. Ternyata satu temanku juga membayangkan bagaimana ketika banyaknya orang seperti itu terjadi suatu bencana besar, kembali aku beristigfar.
Hingga akhirnya kami bertigapun sampai di jalan raya, aku dan temanku satu mobil karena satu arah, namun temanku yang satunya menyebrang karena tidak satu arah. Kami bertigapun bersalaman mengucap salam, tak lama setelah itu mobil yang biasa kita sebut kopajapun datang, aku dan temankupun menaiki mobil itu dengan lafadz bismillah. Atas izin Allah kami berdua bisa duduk, karena sebelumnya temanku sempat berdoa “Ya Rab... Mudah-mudahan kami dapat tempat duduk” hanya kata Aamiin yang kupanjatkan ketika di perjalanan itu, dan alhamdulillah berkat doa temanku kami berdua bisa duduk. Tak lama mobil berjalan, mobil kopaja kembali berhenti. Terlihat yang menaiki mobil kopaja sekelompok anak muda yang kira-kira SMA kelas satu dan dua dengan satu orang membawa piala, jumlah mereka berkisar sepuluh orang ada wanita dan laki-laki. Setelah mereka naik, tentu saja mobil menjadi sempit dan mendadak ramai. Aku sedikit melirik melihat salah satu remaja yang sedang menghisap rokok, ternyata  teman di sebelahnyapun merokok, aku hanya bisa mearik nafas panjang melihat fenomena itu. aku berpikir... inikah generasi bangsa saat ini?, lamunanku terpecah ketika temanku berbisik lirih kepadaku “ Alhamdulillah Allah sayang padaku, sehingga memperkenalkanku dengan tarbiyah, aku tidak bisa bayangkan, jika dulu aku tidak mengenal tarbiyah” aku hanya tersenyum tipis mendengar bisiknya. Lagi-lagi atas izin Allah, aku bersyukur Allah memberiku lingkungan yang baik, aku hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan hidayah kepada remaja-remaja yang ada di mobil kopaja itu, aku hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka, aku hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan kesempatan kepada mereka mendapatan lingkungan baik, sebagaimana Allah telah meberiaknnya kepadaku. Belum selesai aku merenung, tiba-tiba mobil berhenti, dan beberapa penumpang menoleh kearah  kiri, aku dan temankupun ikut melihat ke arah kiri, karena waktu itu aku duduk di pinggir dekat kaca, aku melihat kerumunan orang dan satu orang terbaring dengan mengenakan jaket hitam, celana hitam, terlihat wajahnya masih sangat bugar dan gagah namun ada sedikit darah di wajahnya. Mendengar perkataan knek mobil bertanya kepada kerumunan itu, ternyata terjadi kecelakaan dan orang yang berbaring yang aku lihat tadi meninggal. Subhanallah... aku tidak menyangka orang yang tadi kulihat gagah di panggil olehNya. Mendengar kata knek bahwa orang yang berbaring tadi meninggal, segera aku dan temanku mengucapkan innalillahiwainnailaihirojiuun... sungguh betapa gampang sekali Allah mengambil nyawa. Karena memang nyawa dan jasad milikNya. Aku bergetar melihat kejadian itu. dia sudah mendapat giliran untuk bernghadap denganNya, akupun sekarang menunggu giliran kapan aku di panggil olehNya, aku milik Allah, aku sungguh kecil di hadapanNya, ya Allah.. kematian memamng setiap detik mengintaiku, namun... aku tidak sadar akan hal itu, maafkan aku Ya Rabb... aku sering lalai padamu maafkan hambamu ini Ya Rab...
Akhirnya setelah beberapa menit mobil kembali melaju, temankupun turun dari mobil. Hingga akhirnya kitapun berpisah. Kembali aku melanjutkan perjalanan dan kembali aku merenung ... pada saat itu hujan turun namun tidak begitu lebat, pada saat itu, karena aku tahu hujan adalah rizki maka ketika hujan turun aku selipkan doa kepadaNya “ Rabbi... istiqomahkan aku di jalanMu...” aku selalu memanjatkan doa itu baik ketika sholat lima waktu, maupun ketika aku terzolimi, atau ketika hujan turun.
Tak berapa lama kemudian, akupun turun dari mobil dan melanjutkan perjalanan meuju rumah. Seperti biasa aku bersiap-siap menunggu azan magrib berkumandang. Setelah itu  aku bergegas sholat, makan mlam, tadarus, dan sambil nungggu azan isya aku sengaja membaca buku yang beebrapa lembar lagi hatam. Azan isya pun berkumandang, tadinya aku berpikir akan menghatamkan buku itu, karena memang tinggal beberapa lembar lagi, hatiku berbisik  “ sudahlah ... jangan dulu sholat nanggung tinggal 3 lembar lagi” namun disisi lain hatiku berkata “ Ingat... jangan nunda-nuda sholat nanti Allah cemburu!” setelah mendengar itu, segera saja aku bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Aku menyesali kenapa aku tidak segera bergegas mengambil air wudhu, kenapa aku harus di pikir-pikir dulu, padahal itu panggilan Allah. Kembali setelah aku berwudhu aku beristighfar.
Ku hamparkan sajadah dengan sigap, selanjutnya sambil menunggu temanku berwudhu aku ambil Qur’an kitab suciku, dan mulai tadarus. Satu lembar... dua lembar... tiga lembar... mushaf Al-Qur’an ku baca, namun temanku masih tidak beranjak dari tempat duduknya sambil memainkan Hpnya, aku selalu berprasangka baik kepadanya, mungkin ada sesuatu yang penting jadi dia masih memegang Hp, kembali aku melanjutkan tadarus, satu lembar... dua lembar... pada saat itu sebenarnya aku sudah tidak sabar untuk menghadapNya, aku ingin segera bersujud kepadaNya, namun aku ingat pahala berjamaah sangat besar jadi aku menunggu temanku itu, hati mulai tidak sabar, hingga akhirnya aku memutuskan jika dalam satu lembar dia tidak bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu aku akan sholat sendiri. Ditengah tadarusku, diapun beranjak dari Hp nya menuju kamar mandi. Pikirku dia langsung mengenakan mukena dan langsung menjadi imam shalatku, namun ketika Hpnya berdering, kembali dia menuju Hp nya. Hati kecilku berteriak “ Wahaiiii manusia!!! Apa kamu tidak malu! Apa kamu tidak sedih.... Allah memanggilmu... kenapa kamu sibuk dengan Hpmu, dia merindukan sujudmu... dia ingin melihat hambanya bersimpuh, namun kenapa kamu memilih panggilan Hpmu daripada panggilanNya....nanti ... jika kamu mati apa yang akan kamu katakan kepadaNya... mungkin di akhirat kelak ketika Allah menanyakan apakah kamu mencintaiNya dan kamu menjawab Ya Aku  mencintaiMu Ya Rab... berkata Allah DUSTA!!! KAU DUSTA!!!, KAMU BILANG MENCINTAIKU TAPI KENAPA DI SAAT AKU MEMANGGILMU KAU HIRAUKAN PANGGILAN ITU!!!”
Satu lembar sudah aku tadarus, hingga akupun segera berdiri dan melaksanakan Sholat Isya sendiri... ya sendiri... sementara dia kembali sibuk dengan Hpnya...
Aku hanya bisa berdoa untuk  teman-teman yang aku mencintainya karenaNya... Ya Allah.. berikanlah hidayah kepda teman-temanku yang belum mendapatkan hidayah... berikanlah kesadaran kepada teman-temanku bahwasanya betapa besar karuniaMu... Ya Allah ampunilah dosa-dosa teman-temanku.... doa inilah yang sering aku panjatkan ketika selesai sholat fardu, aku berharap doa yang kupanjatkan berdampak kepada teman-temanku yang berada dimana saja yang karenaNya aku mencintainya.
Hari ini.... begitu banyak pelajaran yang aku dapatkan, aku sangat bersyukur karena Allah memebrikan rasa takut kepadaku, terimaksih ya Allah ... karena rasa takut itu... aku semakin ingin mendekatiMu... Allahku... Istiqomhkan Aku di Jalanmu...

No comments:

Post a Comment