Thursday, July 20, 2017

#2 Cerita Pagi Sampai Siang

Oleh : Khansa S@F

"Waktu pas liburan kemarin, anak ibu cuma dikasih libur 5 hari, 3 hari di rumah, 2 harinya di jalan, kan jauh kuliahnya" kata si ibu tiba-tiba. Maksudnya di jalan ini, di peejalanan menuju rumahnya, karena antara rumah dan kampusnya cukup jauh.

Si ibu ini ingin mengajakku ngobrol, tentu aku harus layani dengan baik, katrena bagiku,  ngobrol di mobil umum untuk sekarang-sekarang amat jarang. Tentu pastinya ada sebab, salah satunya ini, setiap penumpang punya kehidupannya masing-masing.

Oh?

"Emang, anak ibu kuliah di mana?" Tanyaku refleks.

"Sukabumi"

"Di kampusnya harus pakai cadar?"

"Iya, Neng. Belajarnya juga di pisah antara laki-laki sama perempuan" si ibu sambil terus melihatku.

"Ehm, kuliahnya di mana, Bu?"

"Ar-royah"

Pantas!

"Oh, ar-royah? Iya, di sana memang wajib pakai cadar, dan banyak juga Bu, lulusan sana yang kuliah di luar negeri." kataku sambil menerka-nereka, sepertinya nama itu sudah tak asing aku dengar. Ternyata memang benar, nama itu tak asing, soalnya saat masih masa akhir skripsi, aku putuskan untuk pindah kosan dekat kampus islam di jakarta, dan di sana aku satu kos dengan salah satu lulusan ar-royah. Jadi, sedikit aku tahu tentang ar-royah ini.

"Tadi, Eneng mau belajar mobil?"

"Iya, Bu hehehe"

"Iya, Neng, tidak apa-apa, bagus" kata si ibu

Padahal aku tahu, raut wajahnya menyimpan rasa keanehan yang tidak terlalu dalam.

Sampai si ibu turun dari mobil, si ibu pamit padaku, dan aku pun cuma bilang 'iya' sambil senyum. Senyumku mungkin tak terlihat karena terhalang oleh cadar. Tapi tak apa-apa, yang penting aku sudah tersenyum pada si ibu.

"Nanti main atuh, Neng"  kata si ibu dengan akrab

"Hehe, iya, Bu. Insya Allah..."

Sebelum si ibu turun, di sepanjang perjalanan,si ibu juga bercerita kalau anaknya dulu modok di pesantren tahfidz, dan apakah benar dunia ini sempit?. Ternyata, saat aku gali lagi, aku kenal dekat dengan anak si ibu ini, dia murid ustadz hatta yang yang punya pesantren tahfidz di daerah kota. Aku pernah 1 dauroh dengan desi. Nama anak ibu ini desi. Dua tingkat di bawahku.

Sekilas, kembali aku mengingat Desi saat dauroh ramadhan yang cuma 10 hari, ah anak yang lugu, polos dan baik. Ayahnya sudah meninggal. Dan salah satu motivasi dia menghafal ya ini, ingin membahagiakan ayahnya di syurga sama ibunya.

"Desi belum bisa kasih apa-apa ke mereka, tapi desi akan mencoba ngafal Qur'an, biar nanti bisa ngasih mahkota ke bapak dan ibu" kata desi kala itu.

Anak ini memanang baik. Dia tidak bisa menahan air matanya saat mendengar atau melihat video tentang ayah. Waktu pas jam istirahat, aku sengaja memperlihatkan dia video tentang ayah.

"Nanti, Desi minta videonya yah"

"Kenapa? Nangis yah tadi, hehehe"

"Engga, nangisnya nanti aja" kata desi.

Terakhir mendengar kabar, ia sudah tidak mondok lagi di pesantren Ustadz Hatta karena keterima di Ar-royah. Nah, saat mau pindah, Hp nya hilang entah kemana. Setelah itu, aku tidak tahu kabarnya lagi.

Tiba-tiba, ko aku ingat Desi, ya?.
Hai Desi? Apa kabar kamu di sana?.

#Bersambung.

Wednesday, July 19, 2017

#1Cerita Pagi Sampe Siang


Oleh: Khansa S@F

Akhirnya setelah sekian lama, aku hampir menemukan bagaimana gaya tulisanku.

Aku tak peduli penilaian orang tentang tulisanku, peduli sedikit sih hehehe. tapi, yang jelas, aku menulis agar orang-orang juga mau menulis, tentunya menulis dalam hal kebaikan, ya. Ingat.

Apakah karena memang tadi siang baru selesai melahap novel orang, hingga gaya tulisanku ikut-ikutan? Tapi benar, asli, aku menikmati tulisannya. Ringan, merakyat, dan yang pasti apa adanya hehehe.

Saat mengikuti salah satu seminar online, sang pemateri kalau tidak salah ingat pernah berucap, bahwasanya, dia suka menulis karena dengan menulis secara tidak langsung, kita bisa berekspresi dan mengutarakan isi hati, jadinya, saat kita punya masalah tidak stress, karena unek-unek dalam hati kita bisa dicurahkan melalui tulisan. Oya, kalian tahu? Makna stress dalam pelajaran Fisika? Aku masih ingat, saat guru Fisikaku dulu menerangkan Stress dalam pelajaran Fisika. Intinya stress itu artinya tegang. Jadi, kalau kalian tegang, berarti lagi stres hehehehe. (Becanda, jangan diambil hati, ya).

Jika tak ingin meneruskan membaca tulisanku ini, mending berhenti di sini, silakan baca tulisan lain yang lebih bermanfaat dari tulisanku, tapi, asal kalian tahu, tulisan manfaatnya ada setelah ini, jadi pilih mana? Tetap membaca atau pergi?.

Aku hanya ingin menceritakan kejadian yang kualami dari pagi sampai siang tadi, daei jam sekitar 09:30 sampai jam 11:40, pokoknya seru!.

_You know_ lah, aku berhijab dan memakai penutup wajah, yang terlihat hanya mata dan jidat, sepertinya hehe, eh alis juga ding!.

Nah, tadi Qodarullah (aku sudah jarang menyebut kata 'kebetulan' karena di dunia ini, tidak ada yang kebetulan,adanya biiznillah (atas izin Allah) atau Qodarullah (Atas taqdir Allah) jadwalnya aku belajar nyetir mobil dan saat itu juga motor yang biasa aku pakai untuk pergi ke tempat kursusan lagi nangis, ga mau jalan soalnya ban nya bocor, alhasil dengan setengah berat hati, aku pergi dengan kendaraan umum, Angkot namanya.

Di dalam angkot ada sekitar 4 sampai 6  anak SMP perempuan yang kupastikan mau pada pulang, saat itu jam masih setengah sepuluh, aku maklumi mereka kenapa jam segitu sudah pulang, itu  karena baru awal-awal masuk sekolah dan biasanya para guru sama anak-anak yang aktif di organisasi sekolah ngurusin anak-anak baru. Selain enam Siswi, ada satu ibu-ibu yang kupastikan dia buka warung di rumahnya. Soalnya, ada banyak jajanan anak-anak maupun dewasa memenuhi  mobil yang siapa lagi pemiliknya kalau bukan si ibu ini, bisa saja sih anak siswi SMP yang punya, tapi aku lebih seuzon ke ibunya kalau dialah yang punya.

Saat itu, aku duduk diapit ibu dan dua orang siswi. Saat aku baru ingin menyalakan bunyi-bunyian (lagu) pakai headset. Ibu disebelahku bertanya padaku.

"Neng mau kemana?" Tanya ibu itu.

Tumben ada yang berani nanya sama 'ninja' kataku dalam hati. (Ninja maksudnya cadar, karena amat jarang yang nyapa atau bertanya duluan pada orang yang pakai cadar).

"Lipo" jawabku (Lipo nama samaran ya teman, nama daerahnya aku sembunyikan takut ada yang nyulik :) ).

"Ngapain?" Tanya si ibu lagi.

Dalam hati, kok ibu ini berani nanya ngapain? Bukan masalah sih, tapi aneh saja, tapi aku senang, soalnya aku jadinya engga dengerin lagu hehe.

"Kursus nyetir mobil" kataku dengan suara agak keras, soalnya kalau pelan tidak kedengaran karena angin.

Aku sedikit melihat mimik ibu yang bertanya serta anak-anak SMP yang tadinya tak memperhatikanku, seketika memperhatikanku. Aku sih tahu, tapi pura-pura tidak tahu biar mereka engga malu.

"Subhanallah," kata ibu yang nanya. "Ibu seneng kalau liat yang udah pakaian kaya begini" kata si ibu sambil melihatku.

"Alhamdulillah, Bu" kataku sambil bingung atau apalah.

"Oh, ya Neng, kuliah di mana?"

"Jakarta, tapi sekarang audah lulus" jelasku.

"Ngabil jurusan apa?"

"Kesehatan"

"Iya, anak ibu juga seperti ini, pakai baju besar dan pakai cadar. Sebenarnya, ibu juga suka di beliin, yaah ibu mah dipakenya pas pengajian aja, Neng" si ibu menjelaskan tanpa beban.

"Nanti, insya Allah Ibu pake juga dong jangan pas ngaji aja yah" kataku sok kenal, padahal dari sejak awal aku belum kenalan.

Tak lama angkot berhenti, menandakan ada penumpang lain masuk. Semua penumpang siap-siap bergeser, termasuk aku, tapi kalau aku cuma pura-pura saja, karena aku tak mau pindah, soalnya sudah nyaman ada jendela yang dibuka, anginnya banyak.

Lama, aku ingin membuka perbincangan lagi dengan si ibu, tapi apa?

Sebenarnya, aku merasa seperti bertemu dengan saudara, pasalnya, rumah si ibu ini merupakan daerah yang bisa dibilang jarang banget ada yang seperti diriku, jarang banget, (aku tahu rumah si ibu ini sekilas, karena si ibu tadi bilang ke bang supir di turumin di Gang ...., malah, daerah yang si ibu tinggali ini merupakan salah satu daerah yang 'rawan' (artikan sendiri ya, arti rawan di sini apa hehe).

Tak disangka, si ibu lah yang kembali membuka percakapan duluan.

Bersambung...........

Tuesday, July 18, 2017

Apa Kabar, Al-Aqsa?


Oleh: Khansa S@F

Apa yang mesti kukerja,
Selain untaian Doa disertai luka, tanda hati  begitu nestapa.

Tidak banyak orang tahu, tentang berita kepiluan orang-orang palestian yang membela Al-Aqsa yang Mulia.

Karenanya,
Izinkan tulisan ini bercerita, tentang keadaan di sana.

Peluru hingga suara tembakan yang tiap hari menyergap, tak perlu kucerita,
Karena penduduk sana, sudah anggap hal biasa.
Pesawat tempur yang setiap hari hilir mudik mengintai pun, tak perlu ku jelaskan, karena bagi penduduk Palestina, kelipannya menjadi penerang malam yang gulita.
Begitu juga puing-puing bangunan yang hancur bukan karena rapuh melainkan sengaja di hancurkan pun, tak perlu  kukabarkan, karena bagi mereka, itu semua tidak cukup penting, karena sebaik-baik bangunan ialah rumah Allah yang Maha Bijaksana.

Tentu, mereka sabar, saat semua itu menimpa,
Namun... masih bisa sabarkah, saat melihat Rumah Allah yang Mulia direbut musuh Allah yang nyata?

Ah,
Apakah mereka benar-benar berani? Atau memang, karena  tak ada pilihan selain kata berani, hingga dengan keberanian itu, mereka melawan musuh yang  terlaknati demi membela Al-Aqsa, rumah Allah yang dirahmati.

Sobat...
Lihat lah sebentar, atau...  coba bacalah berita sekitar,
Teliti dengan saksama, bagaimana mereka, penduduk palestina  begitu beraninya menghadapi musuh Allah  yang terlaknati, walau pilihan akhirnya tak jarang mati.

Sudah sampaikah iman di hati ini?
Berani mati, demi Allah, pemilik kerajaan Abadi.

Pembelaan mereka, penduduk palestina terhadap Al-Aqsa yang mulia, begitu amat luar biasa.
Semoga Allah, menyaksikan apa-apa yang mereka kerja, hinga saat di akhir hayat kelak jika Allah tanya, mereka akan menjawab dengan mantap, bahwa di bumi,  mereka pernah berani melawan musuh Allah yang terlaknati, sekalipun nyawanya yang menjadi tebusan, demi Al-Aqsa yang dirahmati.

Duhai diri!
Sudah sampaikah iman ini?
Membela, dengan taruhan nyawa,
Mempertahankan, sekalipun sering disiksa,
Dan ikhlas nenerima, sekalipun jasad terluka.

Aku sadar,
Belum sampailah iman ini,
Karena, dalam hati yang selama ini  menjadi  raja diri, masih tersimpan kumpulan noda yang membuat hati mati.

Ya Allah, ya Tuhanku,
Aku tak bisa seberani mereka, penduduk palestina, yang  mempertahankan rumah mulia-Mu,
Namun, izinkan untaian doa ini terlantun untuk mereka, agar mereka, selalu Engkau beri kekuatan sepenuh-penuhnya.

"Ya Allah, rapatkanlah dada mereka dengan karunia iman dan indahnya tawakal pada-Mu, hidupkan dengan makrifatmu, matikan mereka dalam syahid di jalan-Mu, ya Allah... bimbinglah mereka aamiin"

Bumi, 18 Juli 2017 22:03 Wib

https://www.instagram.com/p/BWsXid1FtDJqUwASGIQJVymXPPeQdRyf0uO65s0/

Friday, July 14, 2017

Ini Tentang Niat


#EdisiTipsNulis
#Sabtu

Oleh: Khansa S@F

Saat menulis diniatkan untuk Illahi, pasti dengan sendirinya, Sang Pembimbing Abadi akan dengan senang hati membantu kita. Namun, bagaimana jika niat kita sudah tak lagi murni untuk-Nya? Ini nih, bahayanya.

Izinkan saya bercerita.
Hampir empat hari kemarin, saya amat malas untuk menulis, sekalipun menulis, antara isi dan judul kadang tak nyambung -asal menulis- dan saat saya baca, isinya tak cukup bermakna.

Ada apa? Tanya saya pada diri sendiri. Lanatas saya merenung, kenapa ini bisa terjadi (malas menulis).  empat hari begitu  terasa amat lama. Dalam hati nurani, saya menjerit, saya ingin menulis, tapi rasa malas dan keinginan menulis hilang begitu saja.

Hingga akhirnya, saya temukan akar masalah kenapa empat hari kemarin saya malas menulis, kemalasan itu timbul karena niat yang mulai tak lurus lagi.

Tak bisa dipungkiri, kemarin,  memang timbul kebanggaan di dada bahwa saya bangga menjadi penulis, dikenal, bahkan banyak juga yang suka dengan tulisan yang saya share. Rasa itu menjalar begitu saja hingga saya lupa, niat awal saya menulis untuk apa.

Hingga tak lama, Allah segera menegur saya dengan memberikan rasa malas untuk menulis. Dan tentu saja, saat saya sadar, ternyata rasa malas  ini keinginan saya.

Dulu, saya pernah mengikrarkan diri dengan Sang Maha Pencipta, jika niat saya menulis tak lurus lagi, tegur saya dengan menghilangkan hasrat untuk menulis.

Dan ini terjadi kemarin, saat hati dan pikiran amat menggebu ingin menulis, tapi ketika hendak menulis, tangan ini tak kuasa untuk menulis. Ada saja alasan untuk tidak mengetik. Hingga waktu pun mengalir begitu saja.

Saya bersykur Allah berikan rasa malas menulis kemarin, karena bagi saya, itu tanda jika Allah peduli dengan saya. Allah tak mau melihat niat saya yang mulai tak lurus berjalan terus. Terimakasih ya Allah... :')

Teman,
Setiap kita pasti memiliki niat yang berbeda, tapi saya tegaskan, niat terbaik ialah niat yang semata-mata untuk Sang Pencitpa. Pada intinya, segala sesuatu hal apapun, tidak hanya menulis, niatkanlah segala sesuatu itu  karena-Nya. Dan jika pun  niat mulai tak murni, segera periksa hati, agar tak larut dan tenggelam dalam niat yang tak pasti. Satu lagi, buatlah perjanjian diri dengan Allah yang Maha Abadi. Janji ini berfungsi sebagai penguatan diri, dan tentu saja sebagai komitmen kita dengan Sang Maha Tinggi.

Wallahua'lam

Bumi, 14 Juli 2017 20:35 WIB.

Sunday, July 9, 2017

Spesial Momen2

Oleh: Khansa S@F

_"Aa ayena kerja di mana?" (Aa sekarang kerja di mana?"_

_"Di Pt ****, tapi... jigana Aa bade resign, teh" (di PT..., tapi sepertinya aa akan resign, kak)_

_"Kunaon, A?" (Kenapa, A?)_

_"Pas Aa telusuri, perusahaan ie  mendukung  k*m***s, jadi aa bade resign bae teh" (Ketika Aa telusuri, perusahaan ini mendulung k*m***s, jadi Aa akan resign aja, Kak)_

_"Masya Allah, A..."_

_"Aa bade ngiring F*I bae, mencegah kemunkaran hehehe, karena hate aa palayna mencegah kemunakaran teh" (Aa mau ikut F*I aja, mencegah kemunkaran hehehe, karena hati Aa inginnya mencegah kemunkaran Kak)_

_"Enya atuh A, teteh mah dukung bae.." (Iya, A, Kakak dukung saja"_

***
Ini dia, salah satu adik kelas kesayangan lagi.
Saat masa Aliyah dulu, saya, dua sahabat saya, dan dia sering berdiskusi hingga berdebat. Wawasannya amat luas.

adik kelas yang satu ini amat sayang sama adik-adiknya di rumah, penyayang pokoknya, beradab, lembut tapi amat keras terhadap kemunkaran. Adik ini amat pemalu, banyak orang yang canggung serta takut padanya. Terlebih perempuan. Namun, entah mengapa, saya dan dua sahabat saya dekat dengan dia ini. Dan dia pun terhadap saya dan dua sahabat saya tidak canggung.

Saat tidak ada guru, saya suka bermain ke perpustakaan, di sana suka ada dia ini. Kalau ketemu dengan dia, selalu diskusi, diskusi dan diskusi, tidak mengenal tempat. Kadang di tempat duduk depan kelas, sambil jalan, sering di depan bahkan dalam musola sekolah. Pokoknya, kalau sudah bertemu dengan adik yang satu ini. Bawannya 'gatal' selain diskusi juga  ingin menggali ilmu banyak darinya.

Pernah dia bercerita. Saat sedang di perjalanan, dia pernah berdebat dengan orang kristen, mempertanyakan Tuhannya. Tentu, dia yang menang hehehe.

Dia ini yang sering mengabarkan kepada saya dan dua sahabat saya tentang Dajal, yahudi, kiamat dan lain sebagainya,  Intinya, pemikiran adik yang satu ini amat kritis.
Ucapannya sulit dicerna, tapi jika kita mau renungi. Sungguh sepertinya, sulit lagi menemukan laki-laki yang pemikirannya seperti ini. Contohnya hari ini, dia berucap yang tak bisa langsung saya cerna, tapi malam ini, saya baru menyadari ucapannya siang itu.

Alhamdulillah, hari ini, Allah izinkan bertemu kembali dengan dua adik kelas yang saya rindui. Bukan main bahagianya, tak terkira.

*

Saat itu, saya, sahabat saya, aa dan Ajis sedang makan (makan di walimahan). Setelah makan, kami sedikit mengobrol. Saat itu, saya mengenakan cadar.

"Teteh keturunan Arab, ya?" Tanya Aa sambil tangannya mengintruksikan cadar.

"Arab?" Tanya saya  bingung.

"Iya, itu..." sambil tangannya mengintruksikan cadar, tidak langsung menujuk ke arahku, melainkan ia memutar-mutar tangannya di mulutnya, seolah-olah ia pakai cadar.

"Kok, Arab?" Tanya saya semakin bingung.

"Keturunan Muhammad kali, A" kata sahabat saya.

"Iya, berarti gak boleh di ganggu hehehe" kata Aa sambil tersenyum.

"Maksudnya gak boleh di ganggu?" Kata saya penuh tanya.

"Kalau teteh, berarti boleh diganggu dong???" Tanya sahabat saya dengan penuh tanya.

"Hehehe... teteh keturunan Nabi Adam hahaha" katanya sambil tertawa.

"Hah... -_-#*#*#*#*#" saya dan sahabat saya saling berpandangan.

"Sudahlah lupakan hehehe" kata Aa santai tapi sambil tertawa.

Percakapan itu memang dilupakan saat itu. Tapi malam ini, saya baru tersadarkan apa maksud ucapan Aa kala itu.

Malam ini saya paham, maksud ucapan Aa "Engga boleh diganggu".

Sebelum itu, saya, sahabat saya dan satu adik kelas permpuan saya sedang duduk. Saat itu ada seorang laki-laki yang bisa dibilang tidak normal namun bukan gila. Laki-laki itu senyum-senyum sendiri, kemudian mendekati dan  menyalami sahabat saya dan adik kelas perempuan saya, namun dia tidak menyalami saya.  Padahal, posisi saya saat itu berada di tengah.

***

Ternyata, memang benar, Allah tidak menurunkan syariat dengan serta merta,melainkan pasti bermakna.

Salah satu manfaat cadar/penutup wajah ialah agar wanita muslim tidak diganggu. Saat itu, Aa tidak mengucapkan dalil-dalil Al-Quran, melainkan mencoba logika saya untuk berpikir hingga pikiran itu berujung pada Al-Qur'an.

Begitulah pemikiran seorang adik kelas yangsering disebut Aa ini,

Wawasannya luas, ilmunya cukup  tinggi, adabnya luar biasa, namun ia tetap rendah hati dan tak mau terlihat pintar atau mencoba kepint

https://www.instagram.com/p/BWVP_QBgTkpDNjSddGuQM-Sk3WeXG7Jskd77hY0/

Friday, July 7, 2017

'Why' Dulu, Baru 'How'

Oleh : Khansa S@F

Ada banyak pertanyaan-pertanyaan yang sering timbul, terutama bagi penulis pemula, tapi tak jarang penulis yang sudah mahir juga.

Namun, pernah sadarkah? Pertanyaan-pertanyaan itu hanya sekedar berkutat di "How" nya saja.

*Bagaimana agar menemukan ide bagus, bagaimana cara tulisan kita dinikmati pembaca, bagaimana menghadapi situasi saat-saat ide untuk menulis tak ada, bagaimana agar tulisan kita dimuat di media dan lain sebagainya.*

Padahal, sebelum ke itu semua, ternyata ada hal yang lebih amat penting. Apa?

'Why', mengapa kita menulis?.

Mengapa kita menulis?, inilah pertanyaan besar yang harus dijawab oleh kita, sebelum kita memulai untuk menulis.

Insya Allah, jika 'Why' kita sudah benar. Kedepan, pertanyaan-pertanyaan terkait 'How' akan terlesesaikan.

Pasti, setiap 'Why' kita berbeda. Nah, saat 'Why' kita sudah kencang. Saya yakin, segala hal yang berhubungan dengan 'How' akan terselesaikan.

Ini jelas saya alami sendiri, sekalipun awalnya saya tak tahu,  apakah 'Why' saya benar. Namun semakin berjalannya waktu, karena 'Why' saya inilah, saya merasa tulisan-tulisan yang saya tulis setiap hari, Allah SWT  beri kemudahan dan mengalir saja sekalipun tak jarang ide buntu.

'Why', mengapa kita menulis kawan?. Jujur, awalnya saya menulis karena sebuah hobi belaka, hingga dengan semau hati saja saya menulis. Tidak konsisten setiap hari menulis, tidak setiap hari share di media sosial, dan tidak ada sebesit niat pun untuk membuat group menulis sendiri.

Semakin berjalannya waktu, hati saya berontak sendiri, 'Kenapa kamu menulis, Vi?'. Hingga, tak lama, awalnya 'Why' hanya sekadar hobi, menjadi 'Why' yang berujung pada Illahi.

Untuk mencapai 'Why' karena Illahi, prosesnya cukup menguras energi ruh dan hati. Dan ini saya alami sendiri.

Teman, saat 'Why' kita sudah benar. Pujian manusia tidak ada artinya, sindiran manusia tak membuat kita goyah malah semakin terpacu untuk menulis, popilaritas pun tak membuat kita silau hingga sombong tak menentu.

Jika banyak orang yang mulai menyerah, karena saat tulisan-tulisannya tak diterima media atau penerbit buku, lantas orang itu mundur dan tak mau menulis lagi, hey... apakah 'Why' mu sudah benar?.

Saat banyak orang malas menulis karena tidak mahir dan ide untuk menulis tak kunjung datang, lantas orang itu untuk mundur untuk menulis, hey... apakah 'Why' mu sudah benar?.

Ada banyak orang yang bermalas-malasan untuk menulis karena seringnya mengalami kebuntuan saat menulis, hey... apakah 'Why' mu sudah benar?.

Tidak jarang orang berhenti menulis, karena tidak mendapat pujian dari manusa, lagi-lagi, 'coba periksa 'Why' mu, apakah sudah benar?.

Semua 'How' akan kita lewati karena 'Why' kita sudah benar.

Mau malas bagaimanapu, mau kecewa sebesar apapun, semua akan kita lewati karena semua itu bisa kita lewati. Sepertu badai pasti berlalu~

Saya, menulis setiap hari, apa tidak jenuh? Kadang saya jenuh!, tapi saat ingat 'Why' saya untuk Illahi, untuk apa saya jenuh?.

Saat tulisan saya tidak ada yang membaca bahkan kritik pedas selalu menghujani, apa lantas saya kecewa dan berhenti, sementara 'Why' saya untuk Illahi!.

Saat banyak orang bertanya 'Bukunya ada di toko buku mana?' atau 'tulisannya sudah dimuat media apa?', pertanyaan-pertanyaan itu kadang  amat menusuk saya, apa pantas karena itu, saya putuskan mundur untuk menulis, hey... untuk apa mundur, apakah dengan tulisan  dimuat di media mendapat pahala? Tentu tidak begitu juga kan?. (Waallahu'alam).

Sekalipun tulisan saya tak bertebaran di toko buku misalnya, atau tulisan saya biasa-biasa saja. Saya akan tetap konsisten menulis. Karena 'Why' saya mengalahkan segalanya.

Coba tengok, bagaimana ulama-ulama dahulu menulis banyak buku, apa karena mereka tidak menemukan 'How', pasti mereka pun menemukan tantangan-tantangan. Tapi, lihatlah mereka tetap menulis, karena saya yakin, mereka sudah menemukan 'Why' mengapa mereka harus menulis.

Sudahlah teman! Mulai saat ini, jangan jadikan 'How' kita sebagai alasan, karena jika 'Why' kita sudah benar. Semuanya akan terselesaikan, Insyaa Allah.

_Saat menulis diniatkan untuk Allah,_
_Aku yakin, segala_ _macam penghalang akan terlewati, Insya Allah._
_Soo... tetaplah menulis untuk kebaikan sekali pun  ada banyak orang yang tak menginginkan._

Sabtu, 8 Juli 2017 06:16 Wib.

https://www.instagram.com/p/BWQ5v4rAUi4FoNIQx4tVGtIYt3rIeRCwk1TT0M0/

Monday, April 10, 2017

Hiruk Piruk Keluarga PCC

Oleh : Khansa S@F

_"Vi,katanya penulis, tulis tentang PCC dong..."_ kata salahsatu teman PCC.

Ingin dan memang punya niatan demikian, dengan ucapkan bismillah, saatnya aku torehkan sebuah kisah yang akan menjadi sebuah kenangan dunia yang semoga dikenang sepanjang zaman hehehe.

sebelum panjang lebar, akan kuperkenlakan satu persatu  team yang aku "sayangi" ini.

Aku tidak menyebut nama-namanya, aku hanya menggunakan inisial saja ya biar asik.

Saat ini, team yang ada berjumlah 9 orang, tadinya 15 orang, enam orang sebelumnya,  ada yang berhenti karena tidak kuat wkwkw, ada juga yang memang tidak diamanahi lagi.

Ke 9 orang itu adalah M.W (kepala suku dan orangnya sering menyesatkan -_-), D.A (Ibu Kos kami tersayang orangnya.... ah sudahlah :) ), A.C.R (orangnya  mudah tergoda dan sering membuat  keragu-raguan -_-), H (orangnya rempong terus dengan tugas kampusnya), M.N (orangnya sering ditindas haha), N.M (Orangnya sering Lola gkgkgk), N.N (Orangnya selow tapi tak jarang  galau wkwkw), U.N.A (orangnya  sering baperan atau perasa hahaha), V.A (orangnya yang  nulis kisah kenangan  cihuyyy hehe...). Doakan, semoga ke 9 pengukir sejarah ini hehehe bisa bertahan sampai waktu yang telah ditentukan, sekalipun memang ada sedikit aroma-aroma perpisahan. Tapi semoga saja hanya aroma dan tak nyata. Aamiin.

karena hari ini adalah hari spesial bagi salah satu team, maka tulisan ini akan dimulai dengan kukenalkannya salah satu team yang ada di dalam keluarga PCC.

Namanya U.N.A. dia sering kusebut juga anak motor karena kemana-mana jarang naik mobil umum. Makannya, tak heran hampir jalan yang ada di Jakarta khususnya (Jakarta Utara, Timur, Selatan, Pusat dan umumnya Jakarta Barat) dia hafal.

Dia berasal dari suku Jawa, kuliah satu jurusan denganku  kesehatan masyarakat,alhamdulillah tahun kemarin baru lulus dengan mendapat gelar S.K.M (Sarjana kesayangan mertua) wkwkwk... Sarjana Kesehatan Masyarakat, tepatnya :).  orangnya asik untuk diajak curhat, dan baik hati tentunya.

Dia ini merupakan salah satu teman yang paling banyak bertanya padaku, terlebih soal agama, doakan ya teman-teman, ceritanya dia ingin berhijrah, semoga Allah mudahkan jalannya dan pertemukan dengan orang-orang baik yang mau membimbingnya.

Dalam hal mengerjakan kerjaan, hampir semua team "bertanggungjawab" atas kerjaannya. dia salah satu team yang memang tanggung jawab. buktinya?

Salah satu buktinya,baik dia dan team yang lain rela begadang sampe pagi untuk menyelesaikan target yang diintruksikan (walaupun kadang tidak sesuai target karena kebanyakan data yang diolah wkwkw).

mengeluh memang kadang ada, namun dia termasuk salah satu team yang jarang mengeluh.

aku sangat senang bisa mengenalnya, aku berharap  aku bisa membersamai dia dalam proses penghijrahannya.

Perlu diketahui, mungkin aku tak akan bosan meladeni orang yang ingin menuju kebaikan, pokoknya akan aku berikan apapum yang aku mampu sekalipun masih banyak kekurangannya.

Oya, mungkin di antara team yang lain, dia ini merupakan team yang paling "perasa", jadi jangan heran, istilah "baper" sering menyapanya hehehe.

Hari ini tepat dimana Allah kurangi jatah umurnya, semoga dia sadar ya hahaha...

Satu harapanku untuk dia, hey kamu... aku dukung kamu untuk berhijrah, selama Allah beri kesempatan kita untuk bersama, sebisa mungkin akupun akan berusaha untuk mengenalkan cinta-Nya, tetap semangat... aku berharap kamu menjadi salah satu sahabat yang dapat membawaku ke syurga-Nya :').

pasti ada saja pembaca yang  bertanya-tanya,  apaa sih PCC itu? Mau tempe?, eh maksudnya tahu.  Penasaran? tunggu tulisan selanjutnya ya, sekalipun aku sendiri masih memikirkan kapan menulisnya wkwkw.

Insya Allah "Hiruk Piruk Keluarga PCC"  bisa dibaca di IG, Group Nulis, FB, atau Blog yang nulis, .

*bersambung